Menjadi Orang ‘Normal’ Meski Mengidap Bipolar

Seseorang pernah bilang kayak gini ke saya, “Tapi gw liat lo normal-normal aja. Gak kayak orang sakit (bipolar).”

Kalimat tersebut terucap jelang akhir tahun lalu. Dan memang pada saat itu, saya merasa dan memang benar-benar jauh lebih baik daripada sebelumnya. Saya bekerja dengan lebih bersemangat. Kehidupan sosial saya baik-baik saja, bahkan gak ada yang menyadari kalau saya punya mood-swing yang parah. Saya juga hampir jarang ngambekan.

Meski terlihat sangat baik, bukan berarti saya sudah ‘sembuh’. Saya ‘hanya’ sudah bisa memilih mana yang perlu ditampilkan dan mana yang gak. Saya juga sudah cukup bisa mengendalikan diri. Itu saja.

🙂

Kalau kamu punya masalah yang sama, berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantumu. Gak yang muluk-muluk, kok. Menjadi orang dengan bipolar gak bisa dihindarin, tetapi setiap orang bisa memilih mana yang mau ditampilkan.

1. Masalah harus dihadapi, bukan dihindari

Saya pernah larut dan mengikuti keinginan tubuh saya yang males banget. Sampai sekarang saya masih ngalamin kok.

Bangun pagi dan bersemangat itu susah banget! Buat orang yang gak menderita bipolar saja, mereka butuh perjuangan buat memulai pagi. Apalagi mereka yang punya pikiran gak karuan. Entah itu karena tiba-tiba anxiety-nya kambuh, pikirannya gak bisa konsentrasi, atau lagi ada masalah.

Saya sendiri dulu pernah ngalamin gak mau berangkat ke kantor. Sebab, saya merasa belum mengerjakan tugas sesuai target saya. Akhirnya, saya malah menghindar dan menghilang tiba-tiba. Sampai-sampai pernah bos saya menghubungi kontak darurat saya.

Padahal, masalah ya harus dihadapi. Perlahan saya mulai belajar buat gak menghindar. Saya mulai coba fokus buat kerja. Kalau memang gak bisa mencapai target yang saya buat (yang saya sendiri buat lho), ya sudah. Atau mungkin juga gak bisa selesain target dari bos, ya sudah. Datang saja dulu ke kantor.

Dari situ, saya juga belajar buat menata waktu kerja. Saya juga menyadari bahwa memang untuk saat itu, saya bisanya menyelesaikan semua task dalam hitungan minggu, bukan per hari. Kecuali kalau memang ada yang urgen ya. Maksudnya adalah kalau memang saya gak bisa bekerja maksimal di hari itu, itu gak bikin saya menghilang. Saya tetap ke kantor dan besoknya saya genjot buat benar-benar produktif.

2. Gak semua orang bakal ngertiin kamu

Silakan kita bilang, life is unfair or something. Atau, people don’t care or do not understand me. Kenyataannya memang begitu.

Ini bukan karena ke-bipolaran-nya kita. Tapi memang pada dasarnya kita gak bisa memaksakan orang lain untuk mengerti kita. Sama seperti kita yang gak mengerti mereka kenapa mereka gak mengerti kita.

Haha.

Saya gak bisa menjelaskan ini secara ilmiah atau gimana. Jangankan orang lain, kadang kita sendiri pun bisa saja gak mengerti apa yang terjadi dalam diri kita.  

3. Hidup harus terus berjalan

Ketika saya relapse dan gak melakukan apapun, beberapa hari kemudian ketika saya sudah “sadar”, saya menyesal kenapa menyia-nyiakan waktu tersebut. Bukan berarti saya gak bakal kambuh lagi di masa mendatang.

Hanya saja, ini mengingatkan saya untuk tetap menjalani hidup. Jadi, sebisa mungkin saya berusaha untuk lebih sering bersikap dan memaksakan untuk “normal”. Seperti penyakit pada umumnya, sebenarnya kita masih bisa mengurangi gejalanya, kan ya?

Banyak cara yang bisa kita lakukan. Misalnya, menjaga tubuh tetap bugar dan sehat dengan olahraga atau makan yang benar. Kebetulan berat badan saya dalam angka terburuknya sekarang (apalagi sejak working from home/WFH). Saya merasakan banget gimana gak enaknya yang pengaruh banget ke mental health juga.

4. Gak membandingkan diri dengan hidup orang lain

Ini yang paling penting! Setiap orang unik. Di lain pihak, setiap orang punya pain-nya sendiri juga. Jadi, stop untuk membandingkan diri dengan hidup orang lain.

Sikap seperti ini hanya bikin kita makin desperate, apalagi kalau ternyata kita gak bisa achieve apa yang orang lain dapat. 

Tapi, kan, membandingkan diri dengan orang lain bisa menjadi motivasi?

Bukan berarti kita gak butuh motivasi. Akan lebih bijaksana apabila kita membandingkan diri kita yang sekarang dengan dulu. Coba lihat tren grafiknya naik atau turun? Yang terpenting adalah trennya naik.

Perlu digarisbawahi, trennya yang naik ya, grafiknya bisa saja pernah stagnan. Coba deh perhatikan gambar berikut. Dari sini kita tahu bahwa bisa saja di waktu tertentu ternyata kita stagnan. Tapi jika kita lihat dari awal hingga akhir, tren grafiknya menanjak.

🙂

5. Memilih theme song yang tepat

Ini yang paling aku suka. Lagu sering kali memengaruhi mood. Biar semangat, dengerin lagu yang bikin kamu semangat ya.

Eh tapi, gak selalu harus denger lagu-lagu yang upbeat. Kalau memang lagi sedih, saya makin puasin denger lagu yang mellow-mellow biar afdol. Haha. Tapi ya habis itu capek sendiri dan besoknya punya tenaga baru.

Hai, kamu yang lagi struggling dengan diri kamu sendiri… Kamu gak harus meratapi kenapa kamu terlahir seperti itu. Tapi nikmati setiap fase yang kamu alami. Buktikan bahwa kamu bisa mengontrol setiap fase tersebut.

2 thoughts on “Menjadi Orang ‘Normal’ Meski Mengidap Bipolar

  1. Ibnu Singorejo

    Yah hampir semua saya setuju dengan yang disampaikan. Mulai dari masalah untuk dihadapi dan di selesaikan, tak semua orang peduli, dan apapun keadaannya hidup tetap berjalan.

    Pengecualian memilih theme song yang tepat, kalau itu sih bagi saya opsional saja hihihii….

    Good luck dan semoga semangatmu lebih hebat tinimbang rasa malasmu.

    Like

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s