brain dumping on the blog cuaphelda

Balik Nge-Blog Biar Otak Kepake Lagi

Udah lama gak menulis di blog ini. Dan kali ini aku mau menulis kembali karena ada tujuannya: yaitu mencoba mengurangi brain rot karena doom-scrolling ini.

Yes, bahkan aku yang masih konsisten buat nge-gym, masih bangun pagi, tetep aja masih addict sama doom-scrolling.

Yang bikin aku berada di dalam lingkaran setan adalah: aku too much consume. Akhirnya otakku penuh, tapi bukannya bisa mengeluarkan isi kepala, aku malah kecapean sendiri.

Akhirnya?

Ya, gak pernah menulis panjang lagi. Even menulis captions IG Story aja kadang bingung, lho!

Continue reading
java jazz 2026 cover

First Time ke myBCA International Java Jazz Festival 2026: Dari Bekasi ke NICE PIK 2, Gak Seribet Itu

Aku datang ke myBCA International Java Jazz Festival 2026 sebagai first-timer, dengan satu pertanyaan sederhana: dari Bekasi ke NICE PIK 2 bakal seribet apa?

Sebagai orang yang tinggal di Bekasi, awalnya aku cukup skeptis. PIK 2 jelas bukan lokasi yang dekat. Kalau mendengar event besar di sana, biasanya yang langsung terpikir adalah durasi perjalanan, titik turun, cara pulang, dan apakah setelah sampai venue masih punya energi untuk menikmati acara.

But maybe that’s the thing about big festivals. Sometimes the real question is not only “who’s performing?”, but also “will the whole experience be worth the trip?”

Tapi ternyata, perjalananku ke Java Jazz tahun ini jauh lebih gampang dari yang aku bayangkan.

Continue reading
ilustrasi musik

Akses ke Java Jazz 2026: Sudah Semudah yang Dibayangkan?

Ada dua tipe orang ketika melihat pengumuman lineup festival musik. Pertama, yang langsung cek harga tiket. Kedua, yang langsung buka Maps dan mikir, “Oke, tapi ke sananya gimana?”

Aku mungkin termasuk gabungan keduanya.

Begitu melihat lineup fase pertama myBCA International Java Jazz Festival 2026, aku langsung merasa excited. Bukan hanya karena ini salah satu festival musik paling ikonik di Indonesia, tapi karena beberapa nama di lineup-nya terasa cukup personal buatku.

Aku sendiri belum pernah datang ke Java Jazz sebelumnya. Tapi aku selalu suka jazz dan musik-musik turunannya, dari soul, funk, R&B, sampai lagu-lagu yang rasanya cocok jadi background music untuk fase hidup tertentu.

Buatku, setiap fase hidup punya theme song sendiri.

Continue reading
resolusi tahun baru

The “Consistency” Recipe (Why Your Resolutions Fail)

Let’s be honest regarding 2025 resolutions. Awalnya, plan tahun 2025-ku itu penuh banget dengan resolusi ambisius. Aku mau menulis blog rutin seminggu sekali, posting Instagram 3-4x seminggu, bikin TikTok, and rajin olahraga 3-4x seminggu. Mau ina, mau itu, inu ini. Hahaha.

Hypothesis-nya waktu itu simpel: “Kalau aku push diri aku harder, aku pasti bisa jadi that girl yang produktif.”

Result? Spoiler alert: It was exhausted. Aku menyadari bahwa aku terlalu memaksakan banyak hal buat diadopsi sebagai new habits sekaligus. Bukannya produktif, aku malah burn-out karena gak realistis dengan kapasitas energi aku sendiri.

Continue reading
slow learner belajar

Confessions of a Slow Learner, Gak Pinter “Cuma” Curi Start

Sahabatku sampai kaget pas aku cerita ini. “Wait, Helda… lo pas kelas 5 SD gak bisa perkalian susun ke bawah? Serius?”

Aku ngangguk sambil ketawa. “Iya. Asli. Lemot banget.” 😂 Dia gak nyangka. Karena di matanya (dan banyak orang), aku terlihat “cepat” dan taktis.

Padahal aslinya? My brain takes time. But that “slowness” is exactly why I learned to prepare so hard. Yes, the truth is: My brain is slow.

TRUST ME!

Continue reading
tiny experiments

Berhenti Memaksa Diri, Mulai Bereksperimen: Eps. Konsisten Olahraga

Aku bukan “anak olahraga”. Dari kecil, aku memang gak dibiasakan olahraga sama orangtua. Kalau ingat zaman sekolah dulu, aku lebih memilih bikin makalah daripada ikut kelas olahraga. 😁

Nature-ku memang bukan di situ.

Jadi, bisa bayangin, “berat banget ke gym” itu adalah kalimat yang sangat menggambarkan perasaanku selama ini.

Tapi, aku juga punya pengin hidup lebih sehat. Masalahnya, keinginan dan realita seringkali gak ketemu. Padahal aku punya privilege WFH, gak perlu buang energi buat commuting, tapi ternyata itu aja gak cukup buat bikin aku konsisten.

Selama lebih dari setahun ini, aku sadar (setelah relook back), aku sudah melakukan banyak sekali “eksperimen” soal habit.

Continue reading