Category Archives: Life

Family, relationships, and social connections in day-to-day living.

brain dumping on the blog cuaphelda

Balik Nge-Blog Biar Otak Kepake Lagi

Udah lama gak menulis di blog ini. Dan kali ini aku mau menulis kembali karena ada tujuannya: yaitu mencoba mengurangi brain rot karena doom-scrolling ini.

Yes, bahkan aku yang masih konsisten buat nge-gym, masih bangun pagi, tetep aja masih addict sama doom-scrolling.

Yang bikin aku berada di dalam lingkaran setan adalah: aku too much consume. Akhirnya otakku penuh, tapi bukannya bisa mengeluarkan isi kepala, aku malah kecapean sendiri.

Akhirnya?

Ya, gak pernah menulis panjang lagi. Even menulis captions IG Story aja kadang bingung, lho!

Continue reading
multi dimensional identitas

Kenapa Hidup Butuh Lebih dari Satu “Pilar Identitas”

Kita sering mengira burnout datang karena beban kerja. Padahal, kadang yang lebih berat adalah beban identitas: ketika seluruh rasa berharga diri atau stabilitas kita bertumpu hanya pada satu pilar, contohnya kerja.

Begitu pilar itu goyah, kita ikutan runtuh.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut Identity Foreclosure — saat kita “mengunci” harga diri atau self-worth kita pada satu label saja.

Biasanya: Si Produktif. Si Ambisius. Si Pekerja Keras.

Dan ketika peran itu terguncang, bukan cuma karier yang goyah, tetapi juga seluruh persepsi diri kita.

Continue reading
beban ganda perempuan

Refleksi tentang ‘Beban Ganda’ dan Pola yang Kita Warisi

Ada arsip ingatan yang gak pernah benar-benar pudar.

Aku tumbuh di keluarga Batak di mana ibuku bangun paling pagi dan tidur paling malam. Beliau berjualan ke pasar setiap hari, mengatur keuangan keluarga, dan tetap disebut “istri yang harus tunduk.”

Gambaran itu melekat kuat dalam ingatan masa kecilku — tentang bagaimana perempuan di sekitarku bekerja paling keras, tapi pengakuan sosial sering kali berpihak pada laki-laki.

Waktu mempelajari topik double burden di mata kuliah Psikologi Perempuan dan Gender, aku merasa teori yang dijelaskan di kelas terasa hidup kembali di depan mata.

Continue reading

Amarah Itu Sah. Tapi Jangan Sampai ‘Kehilangan Diri’

Sejak pertama kali aku ngeblog tahun 2008, aku hampir gak pernah bahas politik. Bahkan waktu ada tawaran menulis tentang tokoh politik di blog-ku, aku tolak. Rasa-rasanya itu bukan ranahku sih. 🙂

Tapi kali ini beda. Karena yang terjadi bukan sekadar “isu politik”. Ada sesuatu yang jauh lebih menyakitkan menurutku, yaitu: pembiaran.

Bermula dari wacana kenaikan gaji DPR yang bikin banyak orang naik darah. Terlebih hal tersebut dibicarakan di era ‘in this economy’, yang mana terjadi banyak PHK dan sebagainya.

Kemudian saat demonstrasi, jatuh korban jiwa, yaitu Affan Kurniawan. Seorang anak muda, ojol berusia 21 tahun, tewas terlindas atau dilindas oleh kendaraan taktis Brimob. Dia bukan demonstran. Dia cuma lagi cari nafkah, terjebak di tengah kerumunan.

Continue reading
membandingkan progress_cuaphelda

Kalau Hidup Semua Orang Beda, Kenapa Kita Masih Membandingkan Progress?

Ada masa-masa di hidupku ketika melihat pencapaian orang lain terasa seperti tamparan yang diam-diam. Rasanya seperti aku ketinggalan di perlombaan yang bahkan aku sendiri gak sadar kapan dimulainya.

Hidupku terasa lambat, jalanku terasa berat, dan aku bertanya-tanya: apa yang salah dengan aku?

Ketika aku merasa “tertinggal”

Waktu usiaku 24 tahun, aku baru aja dapet kerjaan full-time di Jakarta dengan gaji UMR. Teman-teman seumuranku? Udah banyak yang mikirin pernikahan, punya rumah, bahkan sudah mapan. Aku? Baru mulai dari nol. Sementara banyak teman-temanku sudah menata hidupnya, aku bahkan baru berani bermimpi kecil.

Continue reading

Merasa Sendiri dan Takut Kehilangan

Sepertinya aku tahu apa luka terdalam dalam diriku: takut kehilangan.

Pertama kehilangan mama. 15 tahun berlalu, aku kira lukaku sudah sembuh. Beberapa tahun belakangan ini memang aku bahkan sudah melupakan tanggal “kepergian” dia, walaupun reminder di kalenderku masih tetap ada.

Semenjak itu aku selalu merasa takut kehilangan dan menjadi sendiri. Padahal sebenarnya aku selalu sendiri. Aku berjuang untuk diriku sendiri. Baik secara materi dan psikis. Tapi sampai sekarang aku merasa bahwa aku nggak bisa hidup sendiri. Oleh karena itu, aku sering “bergantung” pada orang lain.

Continue reading