brain dumping on the blog cuaphelda

Balik Nge-Blog Biar Otak Kepake Lagi

Udah lama gak menulis di blog ini. Dan kali ini aku mau menulis kembali karena ada tujuannya: yaitu mencoba mengurangi brain rot karena doom-scrolling ini.

Yes, bahkan aku yang masih konsisten buat nge-gym, masih bangun pagi, tetep aja masih addict sama doom-scrolling.

Yang bikin aku berada di dalam lingkaran setan adalah: aku too much consume. Akhirnya otakku penuh, tapi bukannya bisa mengeluarkan isi kepala, aku malah kecapean sendiri.

Akhirnya?

Ya, gak pernah menulis panjang lagi. Even menulis captions IG Story aja kadang bingung, lho!

Flashback to My Past Writings

Kadang aku tuh flashback, looking for my past writings. Sekarang aku sangat amaze dengan tulisan-tulisanku.

Hahaha maaf sombong.

How could I do that? Dalam hatiku.

Gimana aku bisa produktif banget menulis, bahkan mengeluarkan segala unek-unek dalam kepala dan beropini—kalau anak zaman sekarang nyebutnya yapping.

BAHKAN TANPA BRAINSTORMING WITH AI.

Lah, sekarang aku—selain brain rot karena doom-scrolling—juga too much brainstorm with AI.

Yang akhirnya, ini otak gak kepake. Even beropini—just opini lho ya, gak perlu research-research deh—itu pun kadang otak ini gak mampu.

Kebetulan, salah satu isu yang belakangan kencang diperbincangkan adalah soal penggunaan air oleh data center yang menjalankan AI.

AI ternyata gak cuma sesuatu yang hidup di layar. Di belakang satu prompt yang kita ketik, ada data center, listrik, server, dan sistem pendingin yang sebagian masih menggunakan air.

Sam Altman pernah menyebut rata-rata satu kueri ChatGPT menggunakan sekitar seperlima belas sendok teh air, seperti yang aku baca dari BBC. Tapi angka konsumsi air per prompt sebenarnya bisa berbeda-beda tergantung model, lokasi data center, sumber energi, dan sistem pendingin yang digunakan. Google, misalnya, melaporkan median satu text prompt Gemini menggunakan sekitar 0,26 mililiter air—kurang lebih lima tetes.

Jadi mungkin persoalannya bukan satu prompt-ku yang langsung bikin bumi kekeringan.

Tapi coba bayangin kalau prompt kecil itu dikalikan jutaan bahkan miliaran penggunaan.

Reuters pada Juni 2026 juga memberitakan hasil riset United Nations University yang memperkirakan konsumsi listrik dan air data center dapat meningkat sekitar dua kali lipat pada 2030 seiring meningkatnya kebutuhan AI.

Nah, berita ini entah kenapa malah jadi salah satu trigger buatku: kayaknya aku memang perlu mengurangi kebiasaan bertanya dan brainstorming ke AI untuk segala sesuatu.

Bukan berarti berhenti pakai AI. Gak mungkin juga. :’)

Tapi, mungkin sebelum bertanya, otakku sendiri perlu dikasih kesempatan buat mikir dulu.

Dan itu juga yang bikin aku mau kembali lagi buat brain-dumping di blog ini dan di buku tulisku. Padahal dulu aku selalu menggaung-gaungkan bahwa menulis adalah terapi buatku.

Let Me Start Again

So, starting this day—again and again—I would like to do brain dump lagi di blog ini. Balik jadi Helda yang suka beropini. Yes, sesuai dengan namanya CuapHelda. Namanya juga CUAP.

Biar segala kemumetan di dalam kepala ini bisa keluar, keluar, keluar.

Biar aku gak berada di dalam lingkaran setan yang malah menahan aku untuk tidak berkarya. Yes, kamu bisa, Hel!

Oh ya, ada satu tips yang mungkin juga berguna buat kamu yang baca tulisan ini. Ada satu konsumsi yang sebaiknya tidak dikurangi: yaitu konsumsi mendengarkan musik. 🙂

Beda dengan doom-scrolling social media, even nonton podcast daging sekalipun, yang kadang bikin otakku panas tapi gak bisa mengeluarkan apa yang ada dalam kepala.

Musik justru malah menstimulasi otakku dan emosi dalam diriku untuk:

“Yok, ayokkk… kok aku jadi kepengin nulis nih.”

Dan ternyata, pengalaman ini gak sepenuhnya ngarang.

Sebuah penelitian di Scientific Reports menemukan bahwa pada orang yang memang terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik, preferred background music dapat mengurangi mind-wandering dan membuat mereka lebih task-focused. Menariknya, efek musik memang gak sesederhana “musik bikin produktif”. Musik berlirik bahkan bisa jadi distraksi untuk pekerjaan yang berat di bahasa; misalnya membaca, dan kemungkinan juga ketika kita sedang berusaha menyusun kata-kata.

Jadi mungkin bukan musiknya yang secara ajaib bikin kita lebih pintar.

Tapi musik tertentu bisa membantu membawa otak ke state yang membuat kita lebih enak untuk mulai.

Dan buatku, kadang itu memang yang dibutuhkan.

Bukan inspirasi baru.

Bukan satu video lagi.

Bukan satu podcast lagi.

Bukan satu prompt AI lagi.

Cuma duduk, putar musik, buka halaman kosong…

dan mulai mikir sendiri lagi. 🙂

Leave a comment