apa tujuan hidup manusia cuaphelda

Jika Tuhan Tidak Membutuhkan Manusia, Mengapa Tuhan Menciptakan Manusia?

Jawaban atas pertanyaan di atas adalah: aku gak tahu.

Akan tetapi, kalau aku hanya menjawab demikian, tulisan ini pun akan sampai di sini saja. Bahkan, aku gak perlu menerbitkan blogpost ini.

Jadi, izinkan aku memperpanjang tulisan dan membuatnya sedikit bertele-tele. Hehe.

Tujuannya? Gak tahu. Aku tiba-tiba ingin menuliskannya aja karena pertanyaan yang kelihatannya sepele, tetapi sebenarnya gak sepele ini, sering kali terbersit di pikiranku.

Mungkin bukan sepele, ya. Sebagian orang bahkan mungkin sengaja menghindari pertanyaan tentang eksistensi manusia karena agak-agak bikin gila kalau dipikirkan terlalu jauh.

And that’s who I am. 🙂

Sebagaimana pernah aku ceritakan dalam tulisan sebelumnya, aku ingin kembali nge-blog seperti dulu. Dan inilah Helda yang dulu. Helda yang membentuk Helda sekarang.

Banyak tulisan lamaku justru lahir dari pemikiran-pemikiran yang agak bikin “gila” seperti ini. And I missed those days.

Kenapa Tuhan Menciptakan Manusia?

Oke, kembali ke pertanyaan awal: mengapa Tuhan menciptakan manusia?

Pertanyaan ini sebenarnya berawal dari sesuatu yang sudah cukup lama kupikirkan, yaitu apa tujuan hidup manusia?

Di tahun 2020 silam, aku pernah menulis blogpost berjudul Apa Tujuan Hidup Manusia?.

Waktu itu, kesimpulanku kurang lebih adalah bahwa tujuan hidup bukan semata-mata soal berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita menjalani kehidupan yang bermakna. Bagaimana kita bisa berguna bagi orang-orang di sekitar, mengembangkan diri, serta melakukan sesuatu yang membuat kita merasa puas ketika suatu hari kehidupan ini berakhir.

Aku masih menyukai pemikiran itu.

Tetapi belakangan aku menyadari bahwa pertanyaan “apa tujuan hidup manusia?” sebenarnya bisa memiliki banyak makna, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Misalnya, ketika seseorang bertanya apa tujuan hidupnya, apakah dia sedang mempertanyakan apa yang ingin dicapai selama hidup? Apakah dia sedang mencari alasan mengapa kehidupannya layak dijalani? Atau justru sedang mempertanyakan alasan manusia diciptakan sejak awal?

Tiga pertanyaan tersebut terdengar mirip, tetapi sebenarnya berbeda.

Kalau dalam tulisan sebelumnya aku lebih menekankan bagaimana kita menggunakan waktu kehidupan, sekarang aku ingin mundur lebih jauh lagi.

Kenapa kita diciptakan oleh Tuhan?

Dan, memangnya Tuhan itu ada?

Kalau Tuhan memang ada, apakah tujuan hidup setiap manusia sudah ditentukan sejak awal? Atau kita memiliki free will untuk menentukan jalan hidup sendiri? Atau mungkin Tuhan memiliki tujuan atas keberadaan manusia secara keseluruhan, tetapi tidak menentukan setiap pilihan yang dibuat oleh masing-masing individu? Lalu, kalau Tuhan adalah sosok yang Mahakuasa dan tidak membutuhkan apa pun, mengapa Dia menciptakan manusia?

Untuk apa?

Nah, semakin dipikirkan, semakin banyak pertanyaan turunannya. Hahaha.

Dan sepertinya, setiap kali aku mencoba menjawab satu pertanyaan, muncul pertanyaan baru yang menuntut jawaban berikutnya.

Sampai akhirnya aku menyadari sesuatu.

Sebenarnya, apa yang sedang aku cari dari semua pertanyaan ini?

Apa Kita Memang Harus Mengetahui Segalanya?

Ada satu hal menarik dari manusia: kita memiliki kemampuan untuk mempertanyakan keberadaan kita sendiri.

Kita bisa bertanya dari mana kita berasal, mengapa alam semesta ada, apakah Tuhan benar-benar ada, sampai untuk apa semua kehidupan ini terjadi.

Tetapi, dengan kemampuan untuk mengajukan pertanyaan tersebut, bukan berarti kita memiliki kapasitas untuk memperoleh jawaban atas setiap pertanyaan.

Dan menurutku, di sinilah kita kadang lupa akan posisi kita sebagai manusia. Tanpa sadar, kita sering menuntut diri sendiri untuk memahami segala sesuatu, termasuk alasan paling mendasar mengapa kita ada. Seolah-olah kemampuan berpikir kita tidak mempunyai batas.

Padahal, kita bukan Tuhan.

Bukan berarti aku sedang mengatakan bahwa mempertanyakan keberadaan Tuhan atau tujuan manusia merupakan tindakan yang salah. Sama sekali bukan.

Aku sendiri masih melakukannya. Tulisan ini bahkan lahir dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tetapi ada perbedaan antara memiliki rasa ingin tahu dan merasa bahwa kita harus mendapatkan jawaban atas segala sesuatu.

Coba pikirkan.

Kita bahkan belum sepenuhnya memahami berbagai hal yang terjadi di dalam tubuh dan pikiran kita sendiri. Masih banyak fenomena di alam semesta yang terus dipelajari dan diperdebatkan oleh para ilmuwan.

Lantas, mengapa kita merasa harus mampu memahami alasan final di balik seluruh keberadaan manusia?

Aku gak sedang mengatakan bahwa jawabannya pasti tidak ada, atau manusia selamanya mustahil mengetahuinya.

Bisa saja memang ada tujuan tertentu yang mendasari penciptaan manusia. Bisa juga ada penjelasan yang sampai sekarang belum mampu kita pahami.

Tetapi kita perlu membedakan antara sesuatu yang kita yakini, sesuatu yang mungkin benar, dan sesuatu yang benar-benar dapat kita ketahui dengan pasti.

Di sinilah aku merasa kita perlu sedikit lebih rendah hati terhadap kemampuan berpikir kita sendiri.

Kita perlu mengakui bahwa kita hanyalah manusia, bukan Tuhan. Kita memiliki keterbatasan, termasuk keterbatasan untuk memahami alasan di balik keberadaan kita sendiri.

And we have to accept it.

Bukan berarti berhenti berpikir atau berhenti mencari tahu.

Tetapi menerima bahwa ada pertanyaan yang mungkin belum bisa kita jawab, tanpa harus menjadikan ketidakpastian itu sebagai penghalang untuk menjalani kehidupan.

But Here We Are. We Exist. So, What Now?

Sekarang, coba kita kesampingkan dulu seluruh perdebatan mengenai keberadaan Tuhan, takdir, free will, dan tujuan penciptaan manusia.

Ada satu kenyataan yang sedang kita alami.

Aku ada. Kamu yang sedang membaca tulisan ini juga ada.

Kita hidup, berpikir, merasakan sesuatu, dan menyadari keberadaan kita sendiri.

Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Tidak ada satu pun dari kita yang sebelumnya dimintai persetujuan apakah ingin hadir ke dunia atau tidak.

But here we are. We exist.

Lalu, bagaimana sekarang?

  • Apakah karena kita tidak mengetahui alasan mengapa kita ada, berarti kehidupan ini menjadi tidak layak dijalani?
  • Apakah kita harus terus terjebak dalam pertanyaan yang sama sampai menemukan jawaban finalnya?
  • Atau bahkan, apakah karena kita tidak menemukan alasan keberadaan kita, lantas kita harus mengakhiri hidup?

Tentu, menurutku tidak.

Aku sengaja mengajukan pertanyaan terakhir itu secara ekstrem untuk menunjukkan bahwa tidak mengetahui mengapa kita ada bukan berarti kita tidak memiliki alasan untuk melanjutkan kehidupan.

Ada perbedaan antara mempertanyakan kehidupan dan terjebak dalam pertanyaan tentang kehidupan.

Kita boleh terus mencari, membaca, berdiskusi, bahkan meragukan kesimpulan yang sebelumnya kita yakini.

Namun, ketika pencarian jawaban justru membuat kita tidak mampu menjalani kehidupan, mungkin sudah waktunya kita mempertanyakan kembali cara kita mencari.

Are we actually looking for an answer, or are we just going around in circles?

Aku jadi teringat satu konsep dalam filsafat yang diperkenalkan Martin Heidegger, yaitu thrownness atau Geworfenheit.

Sederhananya, kita mendapati diri kita sudah berada di dunia, dalam keadaan yang tidak kita pilih sendiri. Kita tidak memilih kapan dilahirkan, siapa orang tua kita, atau bagaimana kondisi awal kehidupan kita. Kita seolah-olah “terlempar” ke dalam keberadaan.

Tetapi bagiku, kesadaran tersebut justru membawa pertanyaan yang lebih relevan.

Kalau kita memang sudah ada, lalu apa yang akan kita lakukan dengan kehidupan ini?

Hidup Kita Terbatas. Jadi, Bagaimana Kita Menjalaninya?

Beberapa waktu lalu, aku menonton lecture dari YaleCourses yang dibawakan oleh Professor Shelly Kagan berjudul How to Live Given the Certainty of Death.

Pertanyaan utamanya menarik: kalau manusia tahu bahwa suatu hari pasti mati, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup?

Kagan mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan memiliki waktu yang terbatas.

Dan karena waktu kita terbatas, kita perlu berhati-hati dalam memilih apa yang ingin kita kejar serta bagaimana cara kita mengejarnya. Bukan berarti semua pilihan harus sempurna. Kita masih bisa membuat kesalahan, belajar, dan mencoba kembali. Tetapi kesempatan untuk mengulang tidak selalu tersedia tanpa batas.

Beliau juga membahas dua pendekatan dalam menjalani kehidupan.

Pertama, menikmati kesenangan-kesenangan kecil yang relatif mudah diperoleh. Kedua, mengejar pencapaian besar yang mungkin lebih bernilai, tetapi memiliki risiko kegagalan lebih tinggi.

Lalu, mengapa tidak mencoba mengombinasikan keduanya?

Menikmati kehidupan sehari-hari sambil tetap berusaha melakukan sesuatu yang kita anggap penting.

Bagian lain yang menarik adalah ketika Kagan membahas quantity versus quality of life.

Apakah kehidupan yang panjang selalu lebih baik daripada kehidupan yang lebih pendek?

Belum tentu.

Kualitas pengalaman dan pencapaian yang kita miliki juga menentukan bagaimana kita menilai kehidupan tersebut.

Dari lecture ini, aku menangkap bahwa hidup bukan semata-mata soal seberapa banyak waktu yang kita miliki, melainkan juga tentang apa yang kita lakukan dengan waktu tersebut.

Dan ini mengingatkanku pada tulisan yang kubuat enam tahun lalu.

Waktu itu, aku menggunakan analogi 24 jam dalam sehari. Kita mungkin sering merasa waktu sehari tidak pernah cukup. Tetapi ada hari-hari ketika kita bisa tidur dengan perasaan puas karena telah menggunakan waktu tersebut dengan baik.

Bagiku, kehidupan juga demikian.

Kita mungkin tidak bisa melakukan semua hal yang ingin kita lakukan. Kita juga tidak selalu berhasil mencapai seluruh tujuan yang sudah kita rencanakan.

Tetapi bukankah kita masih bisa menjalani kehidupan yang bernilai, meskipun tidak memiliki seluruh jawaban tentang kehidupan itu sendiri?

Tentu, apa yang dianggap bernilai oleh setiap orang bisa berbeda.

Ada yang menemukannya melalui keluarga, pekerjaan, hubungan dengan orang lain, keyakinan agama, karya, atau kontribusi kepada masyarakat.

Aku sendiri masih ingin belajar banyak hal, menghasilkan karya, mencapai cita-citaku, dan memberikan sesuatu yang baik bagi orang-orang di sekitarku.

Apakah semua itu merupakan tujuan final Tuhan menciptakan aku sebagai manusia?

Aku gak tahu.

Tetapi ketidaktahuanku tidak membuat semua hal tersebut otomatis kehilangan nilainya.

Mungkin Kita Tidak Perlu Mengetahui Jawaban atas Segalanya

Setelah memikirkan berbagai pertanyaan tadi, aku akhirnya sampai pada satu kesimpulan.

Aku tidak harus mengetahui alasan final mengapa manusia diciptakan untuk dapat menjalani kehidupanku dengan bermakna.

Mungkin Tuhan memang memiliki tujuan tertentu ketika menciptakan manusia. Mungkin juga pertanyaan mengenai penciptaan manusia akan terus diperdebatkan dari sudut pandang agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

Aku tidak sedang berusaha membuktikan atau membantah salah satunya melalui tulisan ini.

Karena, sekali lagi, aku sendiri tidak memiliki jawaban yang pasti.

Dan sekarang aku merasa itu gak apa-apa.

Dulu, mungkin aku menganggap bahwa setiap pertanyaan perlu memiliki jawaban. Sekarang aku semakin menyadari bahwa salah satu bentuk kedewasaan berpikir justru adalah kemampuan mengakui apa yang belum kita ketahui.

Bukan menyerah pada ketidaktahuan, melainkan tidak menjadikan kebutuhan akan kepastian sebagai sesuatu yang menguasai kehidupan kita.

Aku masih boleh mempertanyakan mengapa manusia diciptakan. Aku juga boleh terus belajar dan mengubah pandanganku apabila menemukan alasan yang lebih masuk akal.

Tetapi selama semua pertanyaan tersebut belum terjawab, hidupku tetap berjalan.

Ada pekerjaan yang perlu kuselesaikan, orang-orang yang ingin kusayangi, tempat yang ingin kukunjungi, buku yang ingin kubaca, dan banyak pengalaman yang belum pernah kucoba.

Life goes on, whether I have all the answers or not.

Jadi, kalau suatu hari aku kembali mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakan manusia, mungkin aku akan mengingatkan diriku sendiri:

Kita tidak pernah memilih untuk dilahirkan. Kita juga belum tentu mampu memahami tujuan final keberadaan kita.

Tetapi kita sudah ada.

And here we are. We exist. So, what now?

Apakah kita akan menghabiskan kehidupan untuk terus mempertanyakan mengapa kita ada, atau menggunakan kehidupan yang sudah kita miliki untuk melakukan sesuatu yang menurut kita bernilai?

Dan mungkin, pertanyaan kedua itulah yang lebih perlu aku jawab melalui caraku menjalani hidup.

After all, we are only human. And perhaps, we don’t need to know everything to live meaningfully.

Leave a Reply