Kita sering mengira burnout datang karena beban kerja. Padahal, kadang yang lebih berat adalah beban identitas: ketika seluruh rasa berharga diri atau stabilitas kita bertumpu hanya pada satu pilar, contohnya kerja.
Begitu pilar itu goyah, kita ikutan runtuh.
Dalam psikologi, kondisi ini disebut Identity Foreclosure — saat kita “mengunci” harga diri atau self-worth kita pada satu label saja.
Biasanya: Si Produktif. Si Ambisius. Si Pekerja Keras.
Dan ketika peran itu terguncang, bukan cuma karier yang goyah, tetapi juga seluruh persepsi diri kita.
Ternyata aku one-dimensional dengan variasi
Ada masa dalam hidupku di mana aku pikir aku punya banyak “kehidupan.” Aku kerja full-time sebagai Marketing Manager, punya agensi kecil, kadang jadi pembicara. I felt busy and soooo productive.
Tapi kalau dikerucutkan, semua itu punya label yang sama — KERJA.
Aku tersadar: aku bukan multi-dimensional, aku cuma one-dimensional dengan variasi yang kelihatan berbeda di permukaan.
Begitu satu hal gagal, misalnya pitching ditolak, klien komplain, atau aku burnout — runtuhnya bukan cuma pekerjaan, tapi juga harga diri. That’s what psychology calls Contingent Self-Esteem alias self-worth yang bergantung pada satu domain.

Gambaran paling sederhana?
Seseorang berdiri di atas satu pilar besar bertuliskan WORK. Saat pilar itu goyah, dia jatuh total. Sementara orang lain berdiri di atas tiga pilar misal WORK, HEALTH, RELATIONSHIPS. Ketika satu pilar melemah, tubuhnya masih bisa bergeser, mencari keseimbangan di dua pilar lainnya.
From guilty to structure
Turning point-ku datang waktu aku memutuskan buat kuliah Psikologi. Akhirnya untuk pertama kalinya (lebay! hehe), aku punya sesuatu yang I look forward to — tujuan yang gak ada hubungannya dengan kerja.
Kalau aku lagi berhenti sejenak dari peran Marketing Manager, aku gak merasa guilty. Karena ternyata aku gak sedang “nganggur”; aku sedang menjalankan peranku yang lain, yaitu sebagai Mahasiswa, sebagai Teman yang belajar mendengar, sebagai Manusia yang butuh refleksi.
Istirahat pun berubah makna. Istirahat bukan lagi kekosongan, tapi aktivitas yang menyiram pilar lain.
Itulah bedanya antara multi-peran chaotic dan multi-peran stabil.
- Chaotic — ketika kita menambah kesibukan hanya supaya gak dibilang malas; semua masih di bawah pilar yang sama: Work disguised as different forms of work.
- Stabil — ketika kita dengan sadar membangun pilar yang benar-benar berbeda, lalu menata ritmenya supaya saling menopang, bukan saling mengkanibal.
Dan yang paling penting: gak melekat pada satu peran BAHKAN pada label “multi-peran” itu sendiri. Because attachment (“kemelekatan”) is the real trap.
Bahkan multi-dimensional identity bisa berubah jadi penjara baru kalau yang kita kejar cuma validasi dari “punya banyak peran.” The real healing is learning to shift from attachment to awareness.
Saat kita punya banyak pilar, otak kita belajar bahwa harga diri itu terdistribusi. Kalau satu sisi goyah, kita gak hancur; kita cuma memindahkan tumpuan berat badan.
Ini bukan tentang menjadi sibuk
Membangun banyak pilar bukan tentang menjadi sibuk, tetapi tentang belajar menyalurkan energi diri ke lebih dari satu arah. Kenapa? Biar kita gak bergantung pada satu sumber makna saja.
Dan… kadang, cara paling sederhana untuk melatih itu justru lewat hal-hal kecil yang terlihat “gak produktif.”
Contoh, belajar bengong tanpa rasa bersalah. Just sitting there, staring at the window, letting the brain rest.
Karena mungkin, di momen “bengong” itu, kita sedang melatih diri buat gak melekat pada satu mode hidup: kerja, berpikir, mengejar. Kita lagi menyiram pilar Mind dan Health sekaligus sehingga mengurangi burnout karena beban identias seperti yang aku sebut di awal tadi.
Jadi mungkin, stabilitas bukan tentang seberapa kuat kita bertahan pada satu pijakan, tetapi tentang kemampuan berpindah pijakan tanpa kehilangan arah.Tentang keberanian untuk diam tanpa merasa berhenti. Tentang mengenali diri bukan dari peran yang kita mainkan, tapi dari kesadaran bahwa kita selalu lebih luas dari itu semua.

Leave a comment