Aku pernah jadi orang yang cepat. Bangun pagi, kerja, kuliah, side hustle, semua aku jalani dalam satu hari. Rasanya dulu energi itu gak ada habisnya.

Tapi sekarang? Bangun pagi aja kadang kayak lari marathon. Aku pelan. Bahkan harus mengulang beberapa mata kuliah, dan mungkin lulus lebih lama dari yang aku rencanakan. Tapi, setelah semua yang aku alami, aku sadar satu hal: pelan itu bukan gagal. Pelan itu ritme baru.

Aku harap kamu gak bosan dengan tulisanku yang temanya tentang “slowing” gini ya. ❤️

Saat hidup menuntut kita melambat

Jujur aja, aku sempat desperate waktu sadar aku harus mengulang beberapa mata kuliah. Siapa sih yang gak pengin cepat lulus dan lepas dari penderitaan belajar? Tapi ternyata, hidup gak selalu sesuai rencana. Ada bagian-bagian dari kuliah yang aku harus lewati ulang. Dan itu bukan karena aku gak mampu, tapi karena tubuh dan pikiranku waktu itu lagi di titik nadir. Hehe.

Aku sempat takut. Takut capek harus belajar lebih lama, takut gak bisa membagi waktu antara kerja, side hustle, dan kuliah. Tapi kemudian aku mikir: sayang banget kalau aku berhenti.

Aku udah mulai dari 2023. Masa nyerah sekarang? Jadi aku putuskan buat lanjut. Tapi kali ini, dengan tempo yang lebih lembut. Aku siap ngulang!

Energi yang gak lagi sama, rasa bersalah itu nyata

Dulu, aku bisa kerja seharian, lanjut begadang, dan masih sempat jadi volunteer. Sekarang, tubuhku udah beda. Klimaksnya, ya, saat aku didiagnosis tumor pituitari. Dokter gak bilang itu penyebabnya, tapi aku tahu—gaya hidupku yang berantakan itu ada harganya.

Saat ini, aku harus selektif. Energi itu mahal. Dan ini bikin aku merasa ketinggalan, terutama di kuliah. Banyak pelajaran yang aku gak sempat cerna. Aku harus terima bahwa kali ini, aku mungkin bakal jadi average. Atau bahkan di bawah rata-rata. Dan itu… gak apa-apa.

Ada masa-masa aku merasa sangat bersalah. Gak bisa produktif seperti dulu, gak bisa kerja sekencang biasanya, bahkan berat badan pun stagnan walau aku udah usaha. Dan rasa bersalah itu malah bikin aku makin jatuh; doom-scrolling, tidur lebih lama, skip rutinitas.

Aku ingat satu konsep dari Atomic Habits, bahwa otak manusia cenderung menyerah kalau gak lihat hasil langsung. Kita suka sama instant gratification.

Menurut riset tentang habit formation – seperti yang dijelaskan oleh James Clear dalam Atomic Habitsprogress yang gak terlihat memang bisa melemahkan motivasi.

Definisi sukses yang gak pernah berubah buatku

Soal slow or fast, itu bisa berubah. Tapi ada satu hal yang gak pernah berubah buatku, yaitu definisi sukses—yaitu mencapai targetku, bukan target orang lain. Jadi di sini aku mau mengingatkan kamu dan diriku sendiri bahwa aku belum berubah secara prinsip, walau memang caranya yang sudah sedikit berbeda.

Aku masih pengin jadi mahasiswa yang bisa kontribusi di tugas kelompok. Tapi aku juga realistis: ada waktu di mana pace yang dibutuhkan oleh kelompok atau situasi gak bisa aku ikuti. Bukan karena aku gak peduli atau gak mampu, tapi karena kondisi tubuh dan energi yang belum sepenuhnya pulih. Dan itu yang bikin aku sempat merasa bersalah.

Tapi aku belajar untuk memaafkan diriku sendiri – karena kadang dalam hidup, kita memang bakal gagal dulu, sebelum akhirnya bisa bangkit lagi dan kontribusi dengan versi terbaik kita yang baru.

Aku bukan orang yang mau hidup di masa lalu. Aku gak mau bikin ulang timeline hidupku. Aku mau belajar dari semua ini. Karena hari ini, aku sadar: Helda itu pejuang. Aku bisa jatuh, bisa nyerah. Tapi aku bakal bangkit. Meskipun hasilnya datang lebih lama, aku bakal tetap jalanin.

Saatnya recalibrate

Hari ini aku nulis lagi. Dan buatku, itu tandanya otakku udah balik kerja. Aku udah bisa mikir jernih. Aku gak pernah bosan bilang bahwa writing is my therapy. Tulisan ini bukan soal pencapaian. Tapi soal keberanian buat bangun lagi, walau pelan.

Aku bukan gagal. Aku cuma lagi ganti ritme. Dan aku harap, kalau kamu baca ini dan merasa stuck atau pelan, kamu tahu: itu juga gak apa-apa.

Kita semua berhak punya versi sukses kita sendiri. Dan kadang, sukses itu… dimulai dari berani bilang: “Aku siap jalan lagi.”

3 responses to “Saat Harus Lebih Lambat, Apa Itu Artinya Gagal?”

  1. Dan aku harap, kalau kamu baca ini dan merasa stuck atau pelan, kamu tahu: itu juga gak apa-apa….Thanks God, slowing it’s okey…. itu gak jelek2 amat .

    Like

    1. Makasi sudah baca konten ini ya. ^^

      Like

  2. Akhirnya nemu blog yang isinya sekadar berbagi pengalaman dan pemikiran..Makin lama makin susah dicari yang model begini. Terima kasih udah berbagi 🙏

    Like

Leave a comment

Be Part of the Movement

Get the latest posts by email.
No spam, just thoughtful notes.

← Back

Thank you for your response. ✨

Clarity 1-on-1 with Helda

Kalau kamu bingung arah karier, sering overthinking, susah fokus, dan hidup terasa “acak banget”, sesi ini bantu kamu nemu struktur yang sesuai kondisimu. Let’s talk!