Habit itu gak harus sempurna, tapi harus konsisten. Itu pelajaran paling penting yang aku dapat dari buku Atomic Habits.

You know what, awalnya aku cuma kepikiran gimana aku bisa berhasil turun berat badan. Karena beberapa bulan lalu, seriously, badanku udah ngos-ngosan banget. Ini ngefek juga ke produktivitas – mulai dari soal rutinitas pagi, pekerjaan, dan pikiranku.

Dari yang “cuma kepikiran” turun berat badan. Surprisely, I could say that, rather than focus on losing weight, I’m in progress to find myself. 🙂 

Sounds cliche? Hehe. But, I proudly say that this is not cliche. I’m not on my ideal body goal yet, but I feel more productive, gained my confidence, and one thing for sure – sticking to my habits and making it part of my life.

Anyway, happy new year, Guys! Let me write again for you~ Hopefully, it inspires you to build your own habits.

Kenapa goals bisa ‘menyesatkan’

Balik lagi ke buku Atomic Habit by James Clear. Sebenarnya aku udah mulai beberapa kebiasaan kecil beberapa bulan sebelum baca buku ini. Tapi, buku ini bener-bener bikin aku lebih paham soal siapa aku dan apa yang sebenarnya ingin aku capai.

Dulu aku selalu mikir, asal goal-nya tercapai, selesai deh perjuangan. Dulu aku mikir turun berat badan aja udah cukup. Tapi setelah tercapai, aku malah bingung, ‘Habis ini ngapain?’ Dan akhirnya berat badan naik lagi.

Inilah yang aku pelajari: Goals itu punya endpoint, sedangkan habit itu proses tanpa akhir. Goals seringkali bikin kita terlalu fokus ke hasil akhir, tapi lupa untuk menikmati prosesnya. Padahal, justru proses itulah yang membentuk siapa kita.

Finally, I found my magic formula

Sebenarnya tiga bulan terakhir, sejak Oktober, aku udah mulai coba-coba soal daily routine. Aku trial and error, until I found my formula: keystone habit. Ini istilah yang aku pelajari di salah satu mata kuliah Etika di kuliahku.

Keystone habit ini adalah kebiasaan kecil yang punya efek domino besar ke kebiasaan lainnya. Dari berbagai trial and error, aku menemukan bahwa yang perlu diperbaiki terlebih dahulu adalah my morning routine. Udah ini aja dulu.

Contohnya, di case aku, I do: bangun pagi → ganti baju olahraga, pakai sepatu olahraga → olahraga strength training 10 minutes aja → morning walk with Donna (my furbaby) → sarapan → mandi → siap kerja.

Dari satu kebiasaan kecil ini, aku jadi lebih teratur. 

Pertemuanku dengan buku Atomic Habits juga bukan kebetulan. Aku memang mencari buku yang fokus membahas tentang membangun habit. And thank to the universe, buku ini benar-benar jadi game changer buat aku. Ada beberapa strategi yang aku adopsi yang benar-benar sharpen my formula to be a magic formula.

1. Cue system

Daripada terpaku pada jadwal yang rigid, aku fokus ke cue atau trigger. Misalnya, setelah bangun tidur, aku langsung ganti baju olahraga. Setelah olahraga, aku langsung sarapan. Pola ini bikin aku lebih fleksibel dan gak stres soal “jam segini harus ngapain.”

Anyway, for this cue system, I will explain that later in my another post ajalah ya.

2. Stress-free habits

Dulu aku sering merasa tertekan buat ngejar habit. Tapi sekarang aku sadar, habit itu harusnya bikin nyaman, bukan bikin stres. Kalau kebiasaan baru terasa berat, mungkin yang kita mulai terlalu besar. Mulai kecil gak apa-apa kok, yang penting KONSISTEN.

3. Identity over goals

Pelajaran terbesar dari Atomic Habits adalah soal identitas. Buku ini ngajarin aku untuk fokus ke aku mau jadi siapa, bukan cuma hasil akhirnya.

Aku ini penulis, so I have to start routinely writing, not only make this as a resolution. Aku mau jadi orang yang sehat, bukan cuma yang berat badannya turun.

Terutama untuk part menulis, padahal dulu aku konsisten menulis hingga blog lamaku bisa mencapai 150K visitors per bulan. Aku inget banget masa-masa itu, cukup banyak yang email diriku buat curhat dan bahkan sekadar say thanks. Bahkan, blog ini jugalah yang menjadi “jualanku” saat melamar pekerjaan di awal-awal karierku di startup.

It pays off! So, why did I stop? It’s honestly so sad that I went through a phase where I took a break like this.

Hidup itu proses, bukan hasil akhir

Once again, habit itu bukan soal mengejar tujuan akhir, tapi soal kita mau jadi siapa setiap harinya. Kalau kita fokus ke proses, kita gak akan merasa “selesai” atau “gagal.” Karena tiap langkah kecil bakal jadi habit compounding to become something in the future.

Jadi, aku mau ngajak kamu buat mulai dari kebiasaan kecil. Gak perlu yang ribet, gak perlu yang sempurna. Habit itu gak harus besar, yang penting kamu konsisten.

Kalau aku, kebiasaan kecil yang aku bangun di tahun ini (dan seterusnya) adalah menulis lagi, memulai blog, dan berbagi cerita di media sosial.

Kalau kamu, apa kebiasaan kecil yang mau kamu mulai hari ini? Yuk, kita sama-sama belajar buat jadi lebih baik. 🙂

2 responses to “Habit Itu Bukan Soal Goals, Tapi Soal Hidupmu”

  1. […] Dulu, aku selalu fokus ke goal: “Turun BB sekian kilo.” Tapi begitu goal-nya tercapai, ya udah, aku berhenti. Makanya BB-ku sering yoyo. […]

    Like

  2. […] It was exhausted. Aku menyadari bahwa aku terlalu memaksakan banyak hal buat diadopsi sebagai new habits sekaligus. Bukannya produktif, aku malah burn-out karena gak realistis dengan kapasitas energi aku […]

    Like

Leave a reply to 60 Hari Konsisten! Ini Cara Mulai Kebiasaan Kecil tapi Efektif | CUAPHELDA Cancel reply

Be Part of the Movement

Get the latest posts by email.
No spam, just thoughtful notes.

← Back

Thank you for your response. ✨

Clarity 1-on-1 with Helda

Kalau kamu bingung arah karier, sering overthinking, susah fokus, dan hidup terasa “acak banget”, sesi ini bantu kamu nemu struktur yang sesuai kondisimu. Let’s talk!