Let’s be honest regarding 2025 resolutions. Awalnya, plan tahun 2025-ku itu penuh banget dengan resolusi ambisius. Aku mau menulis blog rutin seminggu sekali, posting Instagram 3-4x seminggu, bikin TikTok, and rajin olahraga 3-4x seminggu. Mau ina, mau itu, inu ini. Hahaha.
Hypothesis-nya waktu itu simpel: “Kalau aku push diri aku harder, aku pasti bisa jadi that girl yang produktif.”
Result? Spoiler alert: It was exhausted. Aku menyadari bahwa aku terlalu memaksakan banyak hal buat diadopsi sebagai new habits sekaligus. Bukannya produktif, aku malah burn-out karena gak realistis dengan kapasitas energi aku sendiri.
Dari “forcing” jadi “researching”
Setelah bergumul di 2025, aku mengubah pendekatan aku dari “forcing” jadi “researching.” Aku menganggap kegagalan itu sebagai bagian dari trial and error.
Akhirnya, aku nemu “Resep Konsisten” ala Helda. This isn’t magic; it’s a mix of three frameworks that I tested:
- The Cue System (Atomic Habits): Belajar dari James Clear, aku mendesain surroundings aku untuk men-support habit baru ini. Gak cuma ngandelin niat, tapi environment design.
- Keystone Habits (Charles Duhigg): Ini game changer-nya. Charles Duhigg inspired me to become rationale. Daripada maruk ngerjain semuanya, better aku pilih SATU HABIT dulu dan khatamin itu sampai jadi otomatis.
- Tiny Experiments (Anne-Laure Le Cunff): Aku gak sengaja nemu konsep ini di YouTube BigThink. Intinya: berhenti maksa diri buat “sempurna” dari awal. Justru, lakukan eksperimen kecil untuk menemukan how you do the habit yang paling nyaman buat kamu.

(Referencing my handwritten notes here: It’s basically The Keystone Habit = Atomic Habits + Tiny Experiments).
Fokus di tahun 2025 yang akhirnya aku sadari setelah berbagai eksperimen
Di tahun 2025 kemarin, judul besarku adalah: Rutin Olahraga. Fokus aku cuma satu itu. Gak mikirin blog, gak mikirin konten dulu. Just gym.
Awalnya? Berat banget, jujur. Tapi karena aku pakai mindset “Tiny Experiments,” aku gak nge-judge diri sendiri kalau lagi malas. Aku cuma ganti variabelnya—jam berapa aku berangkat, baju apa yang aku pakai, playlist apa yang aku dengerin. Trial and error to find my comfort!
Anyway, aku sudah pernah menuliskan soal tiny experiments ini di artikelku berjudul Berhenti Memaksa Diri, Mulai Bereksperimen: Eps. Konsisten Olahraga. Also, I put screenshot of my daily habit tracker inspired by Atomic Habits di bawah ini, kalau kamu pengin tau gimana aku track my priority habit. Next aku bakal tuliskan soal ini juga ya. 😉

Sekarang? Gimana yang awalnya aku berat banget buat berangkat ke gym, hingga sekarang aku sudah terbiasa dan ngerasa gak berat. Malah, ketakutan baruku adalah kalau aku gak olahraga, aku bakal moody-an seharian.
Aku jadi sadar satu hal penting dari sesi konsultasi dengan seorang Psikolog: Kita punya limit. Kita gak bisa berperan menjadi berbagai identitas dalam sehari secara bersamaan tanpa mengorbankan kewarasan.
The key to consistency isn’t willpower; it’s rationality
Sulitnya membangun habit itu bukan saat mengumpulkan semangat di awal, tapi mempertahankan semangat itu. Jebakan terbesarnya adalah All or Nothing thinking. Kita sering merasa kalau gak bisa melakukan semuanya dengan sempurna, mending gak usah sama sekali.
Padahal, dengan “waras” menyadari bahwa kita gak bisa melakukan semua hal sekaligus, kita justru memberikan ruang bagi diri sendiri untuk BERPROSES.
Tahun 2025 mengajariku untuk “Khatam Konsisten di Satu Hal” dulu. Dan itu jauh lebih memuaskan daripada punya 10 resolusi tapi nol eksekusi.
So, what’s your focus on 2026, Guys? Next aku bakal share caraku menentukan fokus buat tahun 2026 ini. Really really excited as always to share my thoughts to you!
Happy new year ya, wish us the best!

Leave a comment