“It is the imperfections of life that amount to a different kind of perfection.” – Jason Dessen, Dark Matter
Anyway, aku sangat merekomendasikan drama Apple TV berjudul Dark Matter ini. Drama ini bikin kita berpikir ulang tentang hidup, tapi bukan dengan cara menyesali keputusan-keputusan yang udah kita buat.
Pasti di antara kita pernah di momen yang tiba-tiba bertanya ke diri sendiri, “gimana kalau aku dulu gak gini ya? Gak gitu ya?” – entah itu dalam konteks positif ataupun negatif.
Memilih jalan hidup gak sesederhana gambaran ini

Hidup nyatanya gak pernah sesederhana memilih satu jalan yang benar. Hidup gak sehitam-putih itu.
Setiap keputusan yang kita buat, baik itu keputusan kecil atau besar, membentuk jalur hidup kita. Bisa dibilang, hidup ini mirip dengan konsep multiverse yang sering kita lihat di film-film sci-fi. Ada banyak kemungkinan, dan tiap keputusan membawa kita ke jalan yang berbeda.
Tapi, yang paling penting bukanlah menebak-nebak atau menyesali pilihan yang sudah kita ambil. Seperti kutipan di atas, “Justru ketidaksempurnaan dalam hidup inilah yang menciptakan keindahan tersendiri.”
Setiap pilihan yang kita ambil, dengan segala ketidakpastiannya, punya peran penting dalam membentuk hidup kita yang sekarang.
Yang harusnya kita syukuri dan jalani tanpa penyesalan.
Ada dua poin penting aku pengin sampaikan di blogpost-ku kali ni:
- Pertama, kita gak bisa mengubah keadaan seperti halnya di film-film yang bercerita tentang multi-universe.
- Kedua, bahwa walau kita bisa mengubahnya sekalipun, tidak ada pilihan yang benar-benar bisa memuaskan kita. Inilah pesan yang disampaikan oleh seri Dark Matter.
Refleksi diri: bukan untuk menyesali, tapi untuk belajar
Refleksi diri itu penting. Tapi bukan untuk menyalahkan atau menyesali keputusan-keputusan yang udah kita buat. Justru, refleksi diri bisa menjadi alat yang kuat untuk memahami diri sendiri dan belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Aku sendiri sering flashback ke masa lalu.
Dulu, aku pernah mengambil keputusan yang cukup besar, yaitu memilih menjadi penjaga warnet bergaji Rp300 ribu satu shift. Walaupun pada saat itu, gajinya jauh lebih kecil. Kemudian, orang-orang di kampungku punya asosiasi negatif terhadap pekerjaan tersebut, dibandingkan menjadi asisten rumah tangga, penjaga toko, atau melamar PNS.
Mungkin kamu pada saat ini berpikir, pilihan kamu udah bener itu. Internet kan bisa dibilang “jendela dunia”.
Ya itu betul kalau sekarang, tetapi kalau zaman dulu, kayaknya sedikit banget contoh orang-orang yang bisa berhasil dari internet. Dan informasi tersebut masih sangat terbatas.
Pada waktu itu tujuanku sederhana—aku cuma ingin punya akses ke internet. Gambling.
Tapi, siapa sangka, keputusan itu ternyata membuka jalan baru buatku. Dari sana, aku bisa belajar banyak hal yang akhirnya membawa aku ke Jakarta dan menjalani hidup yang jauh lebih baik dibandingkan dulu di kampung.
Tapi aku juga sadar, kesuksesan ini gak sepenuhnya karena aku membuat keputusan yang tepat. Ada faktor keberuntungan dan kesempatan yang mendukung. Dan kalaupun waktu itu aku gak ambil keputusan itu, mungkin aku tetap bisa jadi versi terbaik dari diriku, hanya saja dengan jalur yang berbeda.
Stop bertanya “what if“, fokus hidup di masa kini
Sering kali, kita terjebak dengan pikiran “what if“. Gimana kalau aku ngambil pekerjaan lain? Gimana kalau aku pindah ke kota lain? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin muncul tanpa disadari, tapi kalau kita terus terjebak di dalamnya, kita bakal kehilangan fokus dari apa yang penting—living in the present.
Daripada sibuk menebak-nebak apa yang bisa terjadi, lebih baik kita fokus pada apa yang sedang terjadi. Bagaimana kita bisa membuat yang terbaik dari situasi kita sekarang? Bagaimana kita bisa tumbuh dari pengalaman yang sudah kita alami?
Hidup di masa kini itu kuncinya. Setiap keputusan yang kita buat membawa kita ke tempat kita sekarang. Dan di sinilah kita seharusnya fokus—pada kehidupan yang sedang kita jalani sekarang, bukan pada kemungkinan-kemungkinan yang mungkin ada di alam semesta lain.
Nikmati setiap pilihan yang sudah dibuat
Hidup gak selalu sempurna, dan gak perlu juga. Justru di situlah letak keindahannya. Setiap keputusan, baik yang besar maupun kecil, berkontribusi pada perjalanan hidup kita. Daripada sibuk menyesali, mending kita fokus pada bagaimana kita bisa menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin.
Ini bukan berarti kita masa bodo dengan tiap keputusan kita, ya. Mungkin tulisanku kali ini terdengar kontradiktif dengan apa yang akan terjadi di masa depan, tapi bukan itu maksudnya. Aku ingin meng-encourage kita semua untuk hidup sesuai dengan pilihan yang sudah kita buat. Setiap pilihan gak bakal ada yang sempurna, jadi buatlah itu menjadi versi terbaik yang bisa kita jalani!
Refleksi diri itu bagus, tapi gunakan untuk tumbuh, bukan untuk menyesali. Hiduplah di masa kini, dan syukurilah setiap langkah yang sudah membawa kita ke sini.

Leave a comment