Tuntutan Hidup: Jalan Menuju Sukses

“…tuntutan hidup!”

Itu satu frase yang aku ingat dari seorang sahabat. Ketika itu dia ditanya soal mengapa dia jago masak.

Kelihatan sepele? Jago masak ‘hanya’ karena tuntutan hidup. Lho apa hubungannya? Menurutku malah nggak sepele sama sekali. Sahabat aku itu bilang juga dia bisa masak karena tuntutan hidup. Dia juga bilang, mungkin kalau ngga kehilangan Papanya, dia nggak akan bisa masak seperti sekarang.

Yap!

Actually, she is one of the strongest person that I’ve ever seen. Nggak cuman jago masak, dia juga giat bekerja. Dia kehilangan ayahnya di usia cukup muda – karena meninggal. Sontak kehidupan berubah. Tapi, semuanya berbuah manis pada waktunya.

Dari situ aku belajar: Kadang kala kita dibuat untuk belajar dan berada dalam jalan menuju sukses ketika tuntutan hidup yang kita tidak duga terjadi.

Eits, sukses nggak harus dalam bentuk bergelimang harta, sudah punya mobil, rumah dan sebagainya. Ketika kamu sudah bisa ‘tersenyum dan tertawa’ meski kehidupan tak sepenuhnya adil bagimu – itu tandanya kamu sudah sukses.

tuntutan hidup

Besok Apakah Bisa Makan atau Tidak?

Kalian pasti sudah nggak asinglah dengan berbagai kisah sukses orang-orang terkenal di dunia. Ada yang dulunya orang miskin, ada yang drop-out, ada yang broken home, depresi dan sebagainya. Semua punya masalah. Bahkan, mereka yang kehidupannya kelihatan sempurna. Masalah-masalah tersebut sekecil apapun bisa jadi bikin kita tersandung, terjatuh, akhirnya stuck di posisi yang sama dan gagal.

Tapi kalau kamu stuck dengan masalah atau ketidakadilan yang terjadi padamu, jalan menuju sukses malah akan terasa semakin jauh.

Aku sendiri terlahir dari keluarga yang nggak kaya ataupun miskin amat. Cukup susah iya juga. Tapi, aku nggak pernah pusing memikirkan apakah makan atau nggak. Ini karena Mama berjuang dan bikin kami nggak mikirin apapun soal ‘tuntutan hidup’. Namun, ternyata kenyataan nggak selamanya berpihak pada kita. I lost her. Dia meninggal di usiaku masih belia. Semua impian buyar! Bahkan sejak itu, pikiran selalu dihantui dengan pertanyaan: “Besok bisa makan atau tidak?” Bahkan pernah tidur di sebuah kursi kayu tanpa bantal, tanpa selimut.

Waktu berlalu, sekarang aku ada di sini. Menulis untuk kalian. Duduk di kursi empuk, di depan monitor 14 inci, ditiup angin AC, ditemani cahaya lampu terang benderang sembari mendengarkan musik dari headphone. Di sebuah gedung perkantoran berlantai belasan.

Norak? Iya, norak banget deskripsiku barusan. Hihihi. Tapi, mungkin kalian juga pernah berada di situasi yang sama atau mirip. Intinya pernah berada di ‘titik balik’, ntah itu karena masalah atau mungkin masalah yang kamu bikin sendiri. Kala itu kalian merasa akan bagaimana masa depan? Masih bisa hidupkah besok? Dan banyak pertanyaan keraguan lainnya.

Selalu Ada Jalan untuk Sukses

 

A photo posted by Helda Sihombing (@cuaphelda) on

Tapi, percayalah, ketika ada satu tuntutan hidup atau cobaan yang benar-benar berat: Itu bukan akhir dari segalanya. Kadang kala malah di beberapa case, tuntutan hidup malah jadi jalan buat kita jadi sukses. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya. Sukses tak harus dalam bentuk materi dan kamu tak harus jadi kaya raya sebagaimana beragam kisah inspiratif yang kamu tahu.

Sukses itu bisa dalam bentuk – BELAJAR. Seperti kawanku itu, dia jadi belajar masak dan sekarang malah aku bilang dia jago masak. Aku dulu nggak bisa angkat galon air, sekarang sudah bisa! Hahaha.

Intinya:

  1. Jangan stuck dengan masalah yang terjadi

Menangisi masalah atau musibah yang terjadi memang manusiawi. Tapi kalau stuck di situ, itu artinya kita kurang percaya pada Tuhan.

  1. “Kita nggak tahu kejutan apa yang ada di hari esok”

Aku suka banget quote ini! Quote yang tiba-tiba terlintas dalam pikiranku beberapa tahun yang lalu ini jadi semacam mood-booster yang bikin struggle to live. Walaupun, kadang-kadang hingga sekarang, aku pernah down juga, pernah impulsif juga sehingga malah bikin masalah baru.

  1. Tuntutan hidup menuntut kita untuk berpikir, belajar dan bertindak

Batin manusia – sadar tidak sadar – selalu mengingkan tetap hidup meski sudah dalam sekarat apapun. Nah, ketika bertanya “apakah bisa makan esok hari”, pertanyaan itu secara tidak langsung bikin kita berpikir bagaimana  caranya supaya bisa makan, belajar caranya untuk dapet duit atau makan dan akhirnya bertindak karena sejatinya nggak mau kelaperan dan mati konyol.

  1. Indah pada waktunya

Petikan satu ini adalah salah satu petikan terpopuler yang pernah ada. Tapi memang benar adanya.

  1. Akan selalu ada orang baik yang ‘dikirimkan’ Tuhan untukmu

Percayalah! Kita nggak bisa hidup tanpa orang lain. Coba deh flash back lagi ke masa lalu, pasti ada orang-orang yang bikin kita struggle, yang bikin kita jadi ‘orang yang baru’ dan menolong. Semoga di masa depan, kita bisa turut membalas kebaikan mereka – bukan hanya Tuhan. Kadang kala aku sendiri cukup mengecewakan orang-orang baik ini.

Akankah Sukses Hingga Akhir Hayat?

Meski selalu ada jalan menuju sukses dan sekarang kita merasa sukses, pertanyaan berikutnya adalah: Akankah sukses hingga akhir hayat?

…karena nggak selamanya hidup baik-baik saja. Kita sudah mengalami perubahan hidup itu. Kita jadi tahu dan SADAR bisa jadi ke depannya berubah kembali – ntah jadi lebih baik lagi atau kembali buruk. Ntah karena itu karena musibah, orang lain ataukah diri kita sendiri. Kita dihadapkan kepada tuntutan hidup berikutnya. Atau, mungkin tuntutan gaya hidup?

Kamu mungkin suka tulisan ini!

5 Comments

  1. inspirasi dari hilda keren….
    Mindset adalah senjata.
    Kepercayaan diri adalah tameng.
    Keberanian adalah jalan setapak menuju kemenangan.
    Doa adalah pengantar dan penghindar dari apa yang luput dari usaha kita 🙂 itu saja..

Leave a Reply