5 Tipe Orang Batak yang Aku Temui di Jakarta

Tetiba saja aku pengin nulis satu ini dalam bentuk artikel. Sebenarnya, impianku adalah menulis novel mengenai orang Batak di ibukota. Namun, apa daya, aku belum sanggup menulis novel. Pengalamanku hanya menulis cerpen saja. Dan, kalau cerpen, sepertinya penerbit agak ogah-ogahan. *tsurhat*  *out of topic*

Oke, back to the topic. Selama hampir 3 tahun aku stay di Jakarta bikin aku kenal banyak orang baru di perantauan, khususnya orang Batak. Dari perkenalan ini pulalah bikin aku ngeh beragam hal baru. Di otak semacam bikin infografis yang menjabarkan karakteristik unik orang – dalam hal ini orang Batak.

Anyway, kamu sendiri, apa yang langsung terbersit ketika bertemu atau mendengar orang Batak? Logatnya yang pake ‘e’ keras? Suaranya yang seperti membentak-bentak? Wajahnya yang kotak? Sifatnya yang keras? Hahaha. Oh iya, yang aku fokusin kali ini khususnya Batak Toba, ya. Batak itu ada 6 kategori, Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, Mandailing dan Angkola. Semua kategori Batak ini punya dialek yang beda-beda, bahkan jauh berbeda.

4 + 1 Tipe Orang Batak yang Aku Temui

tipe orang batak

  1. Orang Batak dari Medan

Ini yang cukup sering disalahpahami. Perlu ditekankan, orang Batak belum tentu orang Medan dan orang Medan belum tentu orang Batak. Lokasi ke Danau Toba itu kira-kira 178 km, atau kira-kira 4 sampai 5 jam dari Medan. Jadi, tolong jangan bilang Danau Toba itu di Medan, ya! Bilang aja di Sumut alias Sumatera Utara. *menggebu-gebu*

😀

Nah, orang Batak yang berasal dari Medan biasanya lebih ‘gaul’. Anak gaul kota Medan-lah. Logat Medan. Ada yang masih bisa berbahasa Batak, ada pula yang nggak bisa. Cara bicara orang Medan itu bisa dibilang banyak perpaduan – tapi lebih ke Melayu kalau aku bilang. Medan sendiri cukup multi-culture, ada Batak, Batak Karo, Jawa peranakan Sumatera, Tionghoa, Melayu dan etnis lainnya. Nah, semua etnis yang besar di Medan punya logat bicara yang hampir sama. Punya kosakata spesial khas Medan. Memang ada beberapa kosakata yang berasal dari Bahasa Batak, tapi jadi kata serapan gitu deh.

A photo posted by Helda Sihombing (@cuaphelda) on

  1. Orang Batak dari Tanah Batak

Nah, kalau asalnya dari Tanah Batak baru dah biasanya logatnya memang bener-bener Batak banget. Kalau sudah merantau ke ibukota… Apalagi kalau langsung dari Tanah Batak merantau ke Jakarta, tanpa ‘transit’ di Medan dulu, hmmm… Sorry aku nggak menggeneralisir kok. Hanya saja ada beberapa orang yang aku lihat begituh. Hihihi. Dibawa have fun aja ya tulisanku ini.

Jikalau sukses, orang-orang Batak dari Tanah Batak ini jadi cukup, ya, agak sedikit ‘norak’. Kemaruk kali ya, jadi demenannya masakan Jepang (ngaku-ngakunya sekarang lebih demen masakan Jepang, tapi ya kalau dikasih arsik atau daun ubi tumbuk juga dilalap abis, haha). Trus, penginnya dapet cewek Cina atau bahkan bule. Biar bangga gituh ntar dibawa ke kampung. Ngomong penginnya Jakarta banget pake ‘lo-gue’, tapi apa daya ternyata dialek Bataknya nggak bisa dilepas.

Nggak semua seperti ini kok. Ada juga yang tetep low-profile dan nggak kemaruk. Bahkan bener-bener down-to-earth dengan tetep bangga dengan asalnya dan beragam budayanya.

Anyway, biasanya mereka yang berasal dari Tanah Batak itu jauh lebih keras ambisinya. Nggak jarang akhirnya membuahkan hasil, mereka jadi ‘orang-orang besar’ di Ibukota. Bahkan tak hanya Jakarta tetapi juga kota-kota lainnya.

😉

  1. Orang Batak lahir dan besar di Jakarta

Orang Batak yang lahir dan besar di Jakarta, mereka pada umumnya sama sekali nggak lagi kelihatan Batak. Except mungkin dari wajah. Tapi, nggak jarang juga wajahnya pun udah nggak kelihatan Batak. Apalagi kalau udah ‘blasteran’. Haha. Itulah kenapa orang Batak demen dapet suku lain biar keturunannya lebih cakepan gitu. Aksen bicara udah bener-bener Jakarta banget. Rata-rata juga udah pada nggak ngerti bahasa Batak.

  1. Orang Batak dari daerah lainnya

Tak hanya yang lahir di Jakarta, besar di Medan ataupun bener-bener berasal dari Tanah Batak – orang Batak ada juga yang lahir dan besar di daerah lain. Sebut saja Lampung, Jawa Barat dan daerah-daerah lainnya. Dari sini aku semakin sadar bahwa karakter kita, cara bicara dan sebagainya – sebenarnya tak selalu bergantung pada suku apa tetapi malah lingkungan dimana kita dibesarkan.

Aku belum tau atau mungkin kurang informasi mengenai orang Batak yang lahir dan besar di luar negeri. Xixixi. Ya pasti ngikuti daerah dia besar, ya.

Ada beberapa blogger Batak yang malah lebih terlihat seperti suku lainnya: Contoh Kak Ani Berta yang malah lebih terlihat Sunda. Ada Kak Eka Situmorang yang Jakarta banget. Ada juga Bunda Indah Julianti Sibarani yang aku ngerasa kok Jawa ya. Temen offline-ku juga ada yang malah aseli Sunda banget nget nget, padahal dia terlahir dari Papa Batak dan Mamanya Manado. Kalau aku sendiri karena sempet tinggal di daerah mayoritas suku Karo, aksen bicaraku malah perpaduan antara Medan dan Karo.

😀

Masuk ke poin terakhir:

5. Orang Batak yang masih bangga dengan asal dan budayanya

Yap! Nggak peduli dimana dia lahir dan dimana dia dibesarkan, dia tetap bangga dengan identitasnya. Tak lupa akan darah Bataknya. Aku bukan penganut sukuisme juga yah, tapi ‘ngeh’ dengan suku kita masing-masing itu tindakan bijak.

Aku cukup menyesal dulu ketika kecil merasa minder dengan statusku sebagai orang Batak. Merasa udik dan sebagainya. Akhirnya, aku tak mau belajar bahasa Batak dan berpura-pura tak mengerti apa yang sedang diucapkan dalam bahasa Batak. Untunglah, walau begitu, aku sering menguping kalau ortu dan keluarga bicara dalam bahasa Batak. Jadinya sekarang masih bisa pasif.

Kenapa aku bilang tindakan bijak untuk mengenal suku kita masing-masing? Itu artinya kita menghargai keberagaman. Beragam itu tentu lebih indah, bukan?

Nah, orang Batak yang masih bangga dengan asal dan budayanya ini masih banyak kok. Lihat saja Bang Viky Sianipar, dia lahir dan besar di Jakarta lho! Plus, dia sepertinya nggak bisa bahasa Batak. Aku baca di blog-nya katanya lagi belajar. Tapi, dia mau belajar dan mengeksplor. Di sisi lain, ada pula seseorang yang asalnya dari daerah mayoritas Batak hijrah ke Jakarta namun tetap mempertahankan identitasnya dan bangga – Bang Okta Sihotang. Salah satu situs yang dia kelola adalah ArtisBatak.com. Wah, ada banyak lagi deh!

🙂

Duma Riris Silalahi (Source:Wikipedia)

Hey, Temans! Kalau kamu pernah ketemu tipe orang Batak yang mana? Yang aksen bicaranya ‘e’ keras, yang Medan kali, Jakarta banget atau malah kok seperti Jawa atau Sunda atau suku lainnya?

😀

*sedikit catatan:

Nggak semua mereka orang Batak yang lahir dan besar di daerah Batak atau Medan akan selamanya punya aksen bicara bener-bener Batak atau bener-bener Medan. Semua bisa berubah seiring waktu dan kemauan. Bapakku orang Batak, lahir dan besar di Tanah Batak. Tapi, aksen bicaranya nggak Batak banget. Kadang bahkan bisa Jawa, kadang Padang. Sesuai dengan lawan bicaranya. Oh iya, ada satu hal lagi nih, nggak semua orang Batak itu makan saksang dan darah. 🙂

Kompleks, kan?

Kamu mungkin suka tulisan ini!

22 Comments

  1. Teman sma ku namanya Erika Dameri..orang batak tapi cuantikkk bangettt. … samsek gak keliatan dia orang batak (*tulang pipinya gak menonjol). Dan orangmya lembut banget.
    . Mirip orang jawa kukira malah dia dari jawa.
    Temanku yg lain pas kuliah suka diledekin krn jika ngomong huruf E itu dialeknya kental banget jadi pas nyanyi mars UI suka bikin orang senyum-senyum deh

    1. Hihihi, macem-macem yah tipe orang Batak. Yang satu lagi mungkin bener-bener baru dari daerah Tanah Batak kali ya makanya dialeknya huruf E kental. 😀

    1. Itu keuntungannya yah, Kak. Aku juga gitu, sok2 akrab kalau udah belanja sama orang Batak. Mayan kadang dikasih diskon. Pernah lagi beli panggang trus aku beli lagi mie gomak, eh mie gomaknya dikasih gratis. 😀

  2. Gue sih… (((GUE))) masuk no.4. Alai tong do boi marhata Batak, nang pe marpasir-pasir.

    Blog gue gak masuk sample di no.4 yak? -_- *berasa seleb online*

    Seringnya sih gue dikira orang Jawa. Padahal jelas ada marga. “Eh, itu si Okto Silaban orang ya? Gue kira Jawa..” Ini yg sering terdengar. Padahal bukan lahir dan besar di Jawa.

  3. Aku juga orang Batak lho.
    Aslik tanpa campuran 😀
    Kalo logat tergantung ngomong sama siapa. Kalau sama kawan orang Medan ya Medan kali lah..Kalo sama orang Jakarte, ya ikut lo-gue. Kalo di Salatiga sini ya ikut juga logat medoknya.
    Kalau dari mukak, ummm…malah banyak yang ngirain aku orang Palembang hehehe…. 😀

  4. Logat bahasa kita mmg kebamyakan mengikuti lingkungan ya mbak. Apalagi yg sdh merantau. Sdh jarang berlogat dan berbahasa dari mana dia berasal. Tp menurut saya seru aja sih… keliatan banget kan kalau bangsa kita ini begitu beraneka ragam

  5. Hehehehe,masuk ke nomor 2
    Hahaha, asli dari Balige, Sumut
    Pertama kali kuliah di perantauan, kawan kawan non batak dan ada juga yg batak kalau dengar aku bicara pasti tertawa, kelihatan kali batak nya kata kawan, dosen pun pernah bilang gitu sama ku, kamu orang batak ya ? Saking kental nya mungkin logat batak ini

Leave a Reply