Teruntuk Kamu yang Sedang Move-on dari Patah Hati

Sesungguh-sungguhnya aku sangat benci dengan pertemuan. Namun, ketika aku dihadapkan dengan pertemuan – aku tak kuasa untuk menolaknya. Hingga akhirnya ketakutanku terhadap perpisahan terjadi. Aku patah hati.

Tahulah sulitnya move-on dari patah hati. Especially, cewek yang emang bawaannya emosional. Aku sendiri ngga mau munak kalau saat patah hati itu, aku pengin nangis sejadi-jadinya. Aku nggak selera makan. Denger lagu-lagu sedih biar makin nangis lagi. Dan konyolnya, aku pernah nggak makan dua hari karena sedih banget harus putus. Hahahaha. Sekarang sih aku bisa ketawa, ya. Tapi waktu itu rasa-rasanya dunia ini runtuh.

Sebenarnya ketawa tadi, ketawa miris, kok…

Pada faktanya perasaan sakit hati itu masih berbentuk luka yang belum kunjung sembuh. Yang paling mengenaskan lukanya meninggalkan bekas!

Teruntuk kamu yang sedang move-on dari patah hati. Ntah karena harus putus dari pacar yang telah bertahun-tahun menjalin hubungan denganmu, dijauhi oleh pacar begitu saja tanpa ada kejelasan atau malah perasaan kamu tak dibalas oleh gebetan kamu, mungkin tulisan ini bisa bantu kamu untuk up lagi. Nggak harus sekarang. Ingat, ya, kamu nggak perlu pura-pura jadi orang yang tegar. Itu dulu yang pengin aku kasih tau.

Continue Reading

Calon Masa Depan, atau Calon Masa Lalu?

Kadang kita terlalu berani – dengan mempertaruhkan masa lalu dan terlalu percaya diri terhadap masa depan. Ya, lebih tepatnya calon masa depan. Halah. Sementara dengan masa lalu, kamu masih belum berani untuk benar-benar menjadikannya masa lalu sehingga masih ada label “calon” juga untuk masa lalumu – CALON MASA LALU.

Calon Masa Lalu:

  1. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan menjadi salah satu alasan kamu move on darinya. Semua manusia memang tidak sempurna tetapi pertanyaannya: Apakah bisa benar-benar berubah? Tetapi kemungkinan besar apa yang sudah menjadi tabiat seseorang sulit untuk dilepaskan. Bukan bermaksud untuk menyalahkannya namun kamu harus bertanya pada diri sendiri: Apa aku bisa menyeimbangkan sifatnya dan menerimanya?
  2. Terlebih ketika kamu menyadari kamu yang terlalu berjuang untuk (calon) masa lalumu itu… Ya sudahlah. Sepertinya tepat kalau kamu harus meninggalkannya. Namun bagaimana kalau dia terus-menerus berjuang untuk mendapatkan simpatimu lagi? Hmm, semoga saja begitu.
  3. Jangan pernah memaksakan untuk tidak menyukainya lagi ataupun untuk benar-benar menyukainya lagi. Apapun yang namanya TERLALU hanya bisa kamu nyesek dan nyesel juga kesel.
Continue Reading