Rahasia Tak Jenuh Menulis 10 Artikel Per Hari

Sebagaimana sudah pernah aku singgung di artikel mengenai profesi yang sedang aku jalani sekarang: pekerjaan content writer SEO – kerjaanku selama ini ya tentu saja menulis, menulis dan menulis. Bahkan, sering kali, total konten yang harus aku produksi per hari adalah 10 artikel bahkan lebih!

As information, kerjaan seorang SEO Content Writer itu adalah produksi konten untuk kebutuhan optimasi mesin pencari. Jadi, memang copywriting agak sedikit diabaikan. Ini karena yang dibutuhkan ‘hanyalah’ artikel yang unik. Unik yang dimaksud dalam dunia SEO adalah lolos Copyscape 100%, alias sama sekali nggak ada kalimat yang mirip dengan artikel lainnya. Tapi… Bukan berarti artikel yang ditulis oleh kami para Content Writer SEO nggak bagus ya. Kami juga tetep concern ke pembaca manusia, bukan cuma robot Google aja.

Continue Reading

SEO Content Writer, Pekerjaan ‘Remeh’ yang Mulai Dilirik Perusahaan

Aku masih inget banget dulu di tahun 2012 dan beberapa tahun ke depannya, aku dikontak sama beberapa perusahaan ‘besar’ tapi hanya outsource aja.  Lewat PenulisMaya.com dan beberapa lapak di forum-forum Internet Marketing, aku jualan jasa penulisan artikel berbasis SEO untuk web. Kala itu *tsah bahasanya*, aku nggak pernah kepikiran bahwa posisi penulis SEO ini bakal bener-bener dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan itu – sebagai pekerja penuh waktu.

🙂

Dunia digital terus bergerak maju. Cukup banyak profesi yang awalnya nggak terpikirkan dulu-dulunya malah di-hire sama perusahaan-perusahaan ini, mulai dari yang masih start-up hingga perusahaan besar. Contohnya, SEO Specialist, Social Media Strategist, Content Writer untuk web dan sebagainya. Nah, kali ini, aku mau bahas pekerjaan yang sebenarnya cukup lama sudah ada tetapi baru beberapa waktu terakhir ini tidak dianggap ‘remeh’ lagi.

Yap! SEO Content Writer.

Continue Reading

Jangan Kecil Hati! Kamu Tetap Bisa Sukses Walau Tidak Kuliah

Tulisanku kali ini ditujukan buat kamu yang putus kuliah atau sama sekali tak pernah mengenyam bangku kuliah. Yas! Kita tetap bisa sukses, kita tetap bisa menjadi apa yang kita cita-citakan dan kita tetap bisa menyongsong hari esok dengan senyuman bangga.

Siapa di antara kamu yang dulu memimpikan proses hidup yang mulus? Sekolah – kuliah – kerja. Mungkin ada juga yang tak berniat untuk kuliah, itu semua bergantung pada pilihan. Tapi, nggak dipungkiri kalau di negeri kita, seseorang dengan background lulusan perguruan tinggi jadi prioritas. Tak hanya alasan itu saja sih, perlu diakui untuk mendapatkan ilmu tertentu hanya ada di bangku perkuliahan. Nggak mungkin ‘kan kamu jadi dokter tanpa kuliah? Except kalau jadi ‘dokter’ dalam tanda kutip. Hehe.

Sekolah, kuliah dan kemudian bekerja lalu menghasilkan banyak uang. Punya rumah, mobil dan sebagainya. Ya, ini memang salah satu definisi sukses. Sayangnya, tak semua rencana kita akan berjalan mulus. Ada penghadang. Tak ada yang mulus, bahkan seleb Hollywood aja pasti masih punya selulit. *eh Akan tetapi, aku bilang ke kamu bahwa ada definisi sukses yang lainnya:

“…ketika kamu bisa membiayai hidupmu sendiri. Itu saja.”

Continue Reading

Cari Penghasilan Tambahan atau Hemat? Pilihlah Berhemat

Tiba-tiba aku tertarik menulis topik yang ada di judul artikel kali ini karena sempat nulis topik yang hampir sama. Beberapa waktu lalu untuk pekerjaan kantor, aku menulis tentang pengelolaan utang-piutang dan kaitannya dengan berhemat ataukah cari penghasilan tambahan.

Dari situ, terbersit dalam benakku sebenarnya sekarang aku sendiri pilih yang mana, ya. Kebutuhan hidup makin tinggi. Kadang diikuti pula dengan kebutuhan gaya hidup. Percayalah! Makin tinggi penghasilan kita bakal diikuti pula dengan tingginya gaya hidup. Meskipun sebenarnya kita bisa mengeremnya – seharusnya.

***

Aku pernah dengar satu statement dari temenku, begini:

“Kalau tidak bisa berhemat maka cari uang sebanyak-banyaknya.”

Continue Reading

Roh Memang Penurut, Tetapi Daging Lemah

Manusia memang lemah, kecenderungannya berdosa.. Meskipun punya hati paling mulia sekalipun.

Setiap kali aku lihat para pedagang ‘kecil’ di jalanan, para pemulung, anak-anak kecil yang berjuang di jalanan dengan menjual tissue, atau teman-teman sebayaku yang bekerja ‘biasa-biasa’ saja.. Aku merasa tidak bersyukur. Lebih tepatnya tidak sadar diri.

Bukan, aku bukan sedang ingin ‘mengecilkan’ posisi orang-orang yang aku lihat tersebut. Sejujurnya aku sungguh salut. Di dunia yang pandangan orang-orang menganggap rendah pekerjaan yang tampaknya tidak bergengsi, jujur saja juga bahwa kadang pemikiran tersebut juga bisa sekelibat merasuk ke pikiranku. Aku sering berpikir kalau aku tidak ‘seberuntung’ sekarang, mungkin sulit bagiku bertahan hidup. Walau memang mungkin saja tidak seperti itu. Kadang diri kita menyesuaikan bagaimana keadaan kita. Kita terlahir untuk bertahan hidup dan struggle to live! Aku benci bilang diriku ‘beruntung’ namun begitu pula adanya.

🙂

Continue Reading