Teruntuk Kamu yang Merasa Sedih Terus-menerus

“Bisa bangun pagi saja aku sudah merasa sangat bersyukur karena itu tandanya aku masih bernafas.”

Terlalu lebay? Mungkin iya, saat nanti aku sudah merasa “baikan”, mungkin aku akan takjub membaca posting ini. Saat itu aku takjub bagaimana bisa aku menuliskan artikel yang lebih banyak curhatnya ini. Tapi, sekarang, aku merasa benar-benar perlu menuliskannya. Ini semacam terapi agar dalam waktu dekat aku akan merasa lebih baik dan bertindak lebih baik. Tulisan ini juga aku persembahkan juga buat kamu yang merasa sedih terus-menerus, ntah apapun alasannya. Atau, kamu merasa tak ada alasan yang bikin kamu menangis? Sama.

Eh tapi, tidak juga. Aku cuma mau bilang, sebenarnya kita tak sedih tanpa sebab, kok. Pasti ada. Bisa masa lalu yang tanpa kita sadari jadi semacam beban ataukah beban itu berlanjut hingga sekarang. Atau, kita (mungkin) mengidap penyakit mental tertentu.

…tapi sayangnya, ketika aku coba ceritakan kepada orang lain apa yang aku rasakan, beberapa ucapan berikut malah tercetus: “Ah, itu mungkin perasaanmu saja” dan “Mungkin kamu lagi capek”. Bahkan, ada yang menertawakan.

🙁

Continue Reading

Beginilah Rasanya Hidup Sendiri…

Ketika tak ada uang, seakan tanpa harapan.

Saat berlimpah uang malah seperti tak ada tujuan.

Dulu waktu kecil dan masih tinggal di rumah orangtua, tak sedikit dari kita membayangkan betapa serunya apabila nanti hidup sendiri di kos, asrama ataupun di rumah lain ataupun di kota lain yang dekat ataupun jauh. Intinya, tak serumah lagi dengan orangtua. Kita membayangkan diri yang begitu bebas, bisa menentukan sendiri apa yang akan dimakan hari ini, kemana dan jam berapa pulang. Yang paling seru adalah mengatur uang dan deg-degan menunggu kiriman uang ortu (apabila sedang menempuh pendidikan). Atau, bagi yang sudah bekerja – waktunya mengirimkan sesuatu pada ortu.

Menantang? Tentu saja.

Seru? Iya banget.

Indah? Ternyata tak seindah dalam bayangan.

Continue Reading