Terlahir dari Keluarga Broken Home, Jangan Jadikan Alasan!

“Menyelam jadi atraksi yang jauh lebih baik daripada hanya menenggelamkan diri dalam air”

Lebih dari setahun lalu, aku menulis  curahan hati anak broken home. Tulisan itu aku buat karena tiba-tiba saja kala itu aku cukup galau. Tiba-tiba ingat masa-masa dulu dan aku merasa benar-benar sendiri. Apakah seorang Helda pernah terjerumus di salah satu tindakan yang disebutkan di tulisan tersebut?  Aku akui: PERNAH. Memang tak semuanya. Bersyukurlah aku bisa selamat!

🙂

Itu karena aku sadar bahwa tak semua orang akan memaklumi kita yang jadi anak broken home. Tak semua mengerti. Hidup ini tak selalu berjalan mulus, Sayang! Sama seperti kita yang tak dinyana terlahir di keluarga broken home. Siapa sebenernya yang ingin lahir di keluarga yang berantakan? Tak jarang kita malah dinyinyirin oleh orang lain bahkan digosipkan begini dan begitu. Seolah-olah anak broken home itu nggak layak dapet yang terbaik. Ketika kita berbuat baik, ada yang merasa bahwa kita nggak pantes. Tapi, ketika kita jatuh – orang-orang seolah mengucapkan “namanya juga anak broken home, pantaslah…”.

Continue Reading

Maklumilah! Anak Broken Home itu Rapuh

Terdengar terlalu mellow? Atau, seperti dilebih-lebihkan? Faktanya, anak broken home itu memang suka mellow dan kadang melebih-lebihkan. Kamu yang hidupnya ‘normal’ saja pasti pernah mellow atau bahkan koar-koar di media sosial mengeluhkan hidupmu.. Apalagi kami yang tak punya tempat peraduan.

🙂

Memaklumi, iya. Aku sendiri memaklumi ketika ternyata jadi seorang yang sukses itu sulit ketika kamu dihadapkan pada kenyataan hidup seperti ini. Memaklumi jika kita pernah jatuh. Ayolah, jangan munafik! Kamu yang punya ortu lengkap saja di sisimu mungkin juga memberontak. Paling tidak memberontak kepada kehidupan, jika bukan pada orangtuamu. Apalagi kami. Yang bahkan tidak tahu sebenarnya memberontak pada apa dan siapa.

Sepertinya aku sendiri mulai larut ketika menuliskan ini.

Aku ingin mengajak kalian untuk memaklumi kami anak-anak broken home akan tindakan kami. Kalian mungkin jengkel berpikir: “Hei, Bodoh! Bodoh sekali kalian mau menenggelamkan diri sendiri. Wake up! Jangan terlalu dipikirkanlah, jangan terlalu nganggep diri paling menderitalah. Kita semua punya masalah”.

…tapi sayangnya, kami tidak ingin masalah kami dibanding-bandingkan. Kami tidak menganggap bahwa kami paling menderita. Hanya saja…

Continue Reading