Penyakit ‘Senyap’ yang Sering Diabaikan dalam Keluarga

29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional atau HARGANAS. Namun, gaungnya dikumandangkan jauh sebelumnya. Senang sekali minggu lalu (13/06), aku diundang ke salah acara peringatan Hari Keluarga Nasional 2017 yang diselenggarakan oleh Kemenkes di Jakarta. Mengangkat judul “Rutin Aktivitas Fisik, Keluarga Terhindar Penyakit Tidak Menular”, bahasan tim Kemenkes dan narasumber tempo hari bener-bener ‘mengetuk’ aku banget plus kebanyakan orang dan keluarga.

Ada yang unik dari kebanyakan keluarga di Indonesia. Aku nggak bilang semua, ya, tapi kebanyakan. Penyakit-penyakit tidak menular lebih sering diabaikan, khususnya karena gaya hidup yang tidak begitu mementingkan hidup sehat. Sehari-hari sajalah kita bisa lihat. Gimana kita demen banget makan gorengan. Hahaha. Trus, menganggep olahraga itu jadi beban dan tak cukup waktu untuk itu. Hmm… Akhirnya? Berdasarkan data yang aku peroleh pada presentasi  Dr. Lily Sriwahyuni Sulityowati di RTPRA Taman Kenanga, penyakit-penyakit tidak menular jadi serangan ‘senyap’. Kenapa aku bilang ‘senyap’? Ya karena sering kali diabaikan. Bukan tak disadari, ya, tapi sering kali kita yang abaikan.

Hipertensi, obesitas, stroke, diabetes melitus, penyakit jantung coroner dan gagal ginjal kronis menjadi salah satu penyakit yang membawa kematian dalam keluarga Indonesia.

🙁

Mengapa Harus Concern Pada Penyakit Tidak Menular?

Dr. Lily yang body-goal banget. 😀

Ini karena ternyata, sorry to say, penyebab kematian yang paling besar justru adalah penyakit tidak menular. Kamu bisa lihat persentase berikut. Di tahun 2014, 71% kematian malah disebabkan oleh penyakit tidak menular. Ini terjadi karena diet tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, minuman beralkohol dan stres. Yang malah lebih bahaya adalah 2/3 penderita tidak tahu kalau mereka menyandang PTM atau Penyakit Tidak Menular.

Ngga heran sih. Perubahan zaman memang menjadi salah satu faktornya. Misalnya saja industrialisasi, globalisasi serta kemajuan teknologi yang bikin kita lebih gemar mengutak-atik gawai daripada melakukan aktivitas fisik. Jadinya, orang kekurangan waktu. Aku juga sempat seperti itu. Bobotku mencapai 61 kg! Dengan tinggi badan hanya 150 cm lho. Trus, nggak peduli kaya atau kurang, kebanyakan dari kita ternyata makan makanan kurang sehat. Kebanyakan orang Indonesia lebih gemar gorengan dan nasi daripada sayur. Bener ta’? Hahaha. Satu lagi, harus yang ‘berasa’ alias garamnya ternyata berlebihan. Kesimpulannya: Kita mengonsumsi makananan dengan gula berlebih, lemak berlebih dan garam berlebih.

…ditambah pula kurang gerak!

Keluarga Cegah PTM dengan Aktivitas Fisik

Dr. Michael kasih contoh gerakan mudah untuk olahraga di rumah atau tempat kerja.

Thank you, Dr. Michael Triangto, SpKO,  dokter yang memang fokus di bidang kebugaran fisik, Beliau memaparkan tentang pentingnya akvititas fisik. Aku sendiri merasakan manfaat aktivitas fisik yang cukup intens aku jalanin beberapa bulan terakhir (sekarang lagi vakum dan ini disemangatin lagi). Hehe. Aku sempet bilang bobotku mencapai 61 kg dan itu nggak enak banget. Nah, karena aku rajin olahraga dan lumayan jaga pola makan – bobotku sempat di angka 55,5 kg dan sekarang naik dikit sih jadi 56 kg. Orang-orang banyak yang cukup menyadari diriku langsingan. *lah jadi curhat*

Yang pasti, Dr. Michael, kasih anjuran bahwa olahraga itu harus BBTT: Baik, Benar, Terukur dan Teratur. Plus, buat jadi mudah! Jadi, jangan bikin olahraga itu ribet. Ngga harus ke gym. Bisa dilakukan bareng anak-anak juga kalau sudah punya anak dan bahkan bareng bayi. Ngga ada alasan buat ngga olahraga deh. Satu lagi, olahraga juga nggak perlu berat-berat karena kita bukan atlet. Yang ada malah bahaya!

Mas Yomi dari IndoRunners
Mas Yomi dari IndoRunners

Mas Yomi Wardhana, selaku salah satu narasumber lainnya, yang merupakan Co-Founder IndoRunners makin menyemangati lagi! Doi sempat mengalami penyakit jantung. Namun, akhirnya dapat struggle. Doi juga punya badan yang segitu-gitu aja meski usianya uda 40-an, sementara teman-teman seusianya mulai melar. Yang aku dapet kesimpulan dari pemaparan Beliau adalah bahwa jadikan aktivitas fisik atau konteks bahasannya – lari – jadi sesuatu yang menyenangkan. Lari bukan sekadar lari tapi bisa menghasilkan banyak experience!

Dari keseluruhan pembahasan ini menitikberatkan pada peran keluarga. Yang paling aku suka adalah tema tahun ini yang cukup menitikberatkan pada pencegahan Penyakit Tidak Menular. Yang secara tidak langsung, butuh upaya untuk jaga gaya hidup sehat dan olahraga – yang memang sesuai kebutuhan kita saat ini. Sukak! Yap! Benar kata tim Kemenkes bahwa orangtua harus kasih contoh terlebih dahulu – gimana mereka juga mulai kasih contoh buat mengonsumsi makanan sehat dan aktivitas fisik. Dengan demikian, kita anak-anak juga dapat tergerak untuk mengikutinya.

Semoga aku juga bisa mempertahankan gaya hidup sehat! Plus, dapat terhindari dari penyakit tidak menular yang begitu ‘senyap’ itu. Amin.

🙂

Acara diakhiri dengan senam 😀

Kamu mungkin suka tulisan ini!

Leave a Reply