Nostalgia Tren Blogger dan Blogosphere Tahun 2008

Di tulisan kali ini aku hanya ingin sekadar bernostalgia…

Kalau inget awal-awal nge-blog, aku bakal sedikit cekikikan karena menemukan diriku ternyata sedikit alay. Begitu juga beberapa blogger lain. Ya, mungkin menurut pandangan sekarang. Tapi, apa yang akan aku bagikan sekarang tidak semuanya alay kok. Hehe.

Aku bukan blogger lawas juga di blogosphere. Mungkin sedikit terlambat untuk kenal dunia blogging pula. Kalau bicara blogger lawas, wah, kita sepertinya harus mundur ke tahun-tahun sebelum 2008. Aku juga kurang begitu tahu. Umm, sama sekali ngga tahu. Kalian mungkin boleh tanya ke Om DV. Beliau adalah blogger yang dicintai para buzzer, sudah bertualang sejak belasan tahun lalu di blogosphere.

Catatan ini hanya berdasarkan pengalaman pribadi dan apa yang aku lihat dan ingat saja ya. Jadi, kalau masih ada yang kurang, sila ditambahkan di kolom komentar.

Continue Reading

Tips Naik Commuter Line, Strategi Jitu Dapat Tempat Duduk

Tips naik commuter line? Ini emang sungguhan tips. Buat kalian yang sudah terbiasa naik commline pasti sudah ngga asing lagi dengan strategi-strategi jitu yang aku sebutkan ini. Nah, buat yang mungkin, masih baru atau sekali-sekali saja mungkin kalian terperangah kok sampai ada strategi segala sih untuk naik ular besi berlistrik ini.

Naik commuter di jam-jam bukan rush hour sih ngga masalah. Enak banget malah. Cepat, ngga kena macet ngga terduga, tenang bisa tidur-tiduran malah, dingin, ah… Pokoknya commuter line itu the best public transportation in Jabodetabek deh! Tapi sayangnya karena label sebagai the best public transportation itulah yang bikin orang rela berdesak-desakan kayak ikan pepes di dalemnya. Termasuk aku.

Continue Reading

4 Alasan Mengapa Memilih Menjadi Karyawan?

Jika di seminar-seminar wirausaha didengungkan pertanyaan: “Mengapa memilih menjadi pengusaha?” Maka di artikel kali ini aku mengajukan alasan mengapa memilih menjadi karyawan.

Sedikit bercerita tentang riwayatku. Halah. Selepas SMA, hanya setahun aku kerja full-time. Setelah berkutat belajar Internet Marketing sembari jadi operator warnet, thank God, aku punya kesempatan untuk jadi full-time blogger. Iya, kerjanya dari rumah. Ngga ada yang namanya eight to five, ngga ada bos dan sebagainya. Walau saat itu, ada ‘mentor’-lah kalau mereka mau disebut mentor. Xixixi.

Nah, sekarang, setelah hampir 7 tahun men-jomblo kerja dari rumah, aku memilih jadi karyawan. Lebih tepatnya sih finally dapet panggilan kerja. Xixi. Kenapa?

Continue Reading

Kerja dari Rumah itu Nggak Enak!

Kerja dari rumah kan enak, ngga harus bangun pagi dan padet-padetan di KRL. Kita bisa atur jam kerja sendiri. Ngga akan diomelin Bos.

Seterusnya dan seterusnya…

Motivasi-motivasi untuk kerja dari rumah kemungkinan besar sudah sering kalian dengar, baca atau saksikan. Wah! Semua orang sepertinya begitu mengelu-elukan yang namanya ‘work at home’. Keren, prestisius, pokoknya terbebas dari segala keterikatan! Itu mungkin dalam bayangan kamu ketika melihat seseorang bekerja dari rumah. Pada kenyataannya tidaklah seindah dalam bayangan kamu, yang mungkin sekarang masih berkutat dengan eight to five.

Aku pernah kerja dari rumah. Awalnya sukses. Namun, lama kelamaan, berantakan. Ntahlah apakah karena benar-benar jenuh atau tidak. Tetapi, satu poin yang aku dapet adalah: Sebelum terjun untuk jadi freelancer atau apalah namanya, kamu harus terlebih dahulu jadi karyawan yang baik. Ya, paling tidak, pastikan kamu bisa mengatur dirimu sendiri. Seriously! Mengapa?

Continue Reading

Calon Masa Depan, atau Calon Masa Lalu?

Kadang kita terlalu berani – dengan mempertaruhkan masa lalu dan terlalu percaya diri terhadap masa depan. Ya, lebih tepatnya calon masa depan. Halah. Sementara dengan masa lalu, kamu masih belum berani untuk benar-benar menjadikannya masa lalu sehingga masih ada label “calon” juga untuk masa lalumu – CALON MASA LALU.

Calon Masa Lalu:

  1. Pengalaman masa lalu yang menyakitkan menjadi salah satu alasan kamu move on darinya. Semua manusia memang tidak sempurna tetapi pertanyaannya: Apakah bisa benar-benar berubah? Tetapi kemungkinan besar apa yang sudah menjadi tabiat seseorang sulit untuk dilepaskan. Bukan bermaksud untuk menyalahkannya namun kamu harus bertanya pada diri sendiri: Apa aku bisa menyeimbangkan sifatnya dan menerimanya?
  2. Terlebih ketika kamu menyadari kamu yang terlalu berjuang untuk (calon) masa lalumu itu… Ya sudahlah. Sepertinya tepat kalau kamu harus meninggalkannya. Namun bagaimana kalau dia terus-menerus berjuang untuk mendapatkan simpatimu lagi? Hmm, semoga saja begitu.
  3. Jangan pernah memaksakan untuk tidak menyukainya lagi ataupun untuk benar-benar menyukainya lagi. Apapun yang namanya TERLALU hanya bisa kamu nyesek dan nyesel juga kesel.
Continue Reading