Teruntuk Kamu yang Merasa Sedih Terus-menerus

“Bisa bangun pagi saja aku sudah merasa sangat bersyukur karena itu tandanya aku masih bernafas.”

Terlalu lebay? Mungkin iya, saat nanti aku sudah merasa “baikan”, mungkin aku akan takjub membaca posting ini. Saat itu aku takjub bagaimana bisa aku menuliskan artikel yang lebih banyak curhatnya ini. Tapi, sekarang, aku merasa benar-benar perlu menuliskannya. Ini semacam terapi agar dalam waktu dekat aku akan merasa lebih baik dan bertindak lebih baik. Tulisan ini juga aku persembahkan juga buat kamu yang merasa sedih terus-menerus, ntah apapun alasannya. Atau, kamu merasa tak ada alasan yang bikin kamu menangis? Sama.

Eh tapi, tidak juga. Aku cuma mau bilang, sebenarnya kita tak sedih tanpa sebab, kok. Pasti ada. Bisa masa lalu yang tanpa kita sadari jadi semacam beban ataukah beban itu berlanjut hingga sekarang. Atau, kita (mungkin) mengidap penyakit mental tertentu.

…tapi sayangnya, ketika aku coba ceritakan kepada orang lain apa yang aku rasakan, beberapa ucapan berikut malah tercetus: “Ah, itu mungkin perasaanmu saja” dan “Mungkin kamu lagi capek”. Bahkan, ada yang menertawakan.

🙁

Kehilangan Mendalam adalah Judul Cerita Hidupku

merasa sedih terus menerus
merasa sedih terus menerus

Sebenarnya aku cukup tak nyaman kalau menceritakan mengenai kisahku. Tapi, aku sudah menyisipkannya beberapa lewat beberapa artikel blog ini. Sekarang, ntah kenapa aku ingin lebih menceritakannya, seperti sedang ingin diperhatikan oleh dunia. Biar orang-orang tahu kalau aku ngga mudah menjalani hidup ini. Memang ada banyak yang jauh lebih menderita daripadaku, aku selalu camkan hal itu. Aku harusnya bersyukur. Tapi, aku ingin menuliskan ini – sekali lagi teruntuk kamu yang juga merasa sedih terus-menerus.

Keluargaku cukup “broken home”, bapak dan mama cukup sering bertengkar. Aku bahkan pernah melihat mamaku coba minum air sabun bekas cucian. Ngga hanya itu, aku pernah melihat bapak bawa-bawa pisau mengancam mama. Mamaku sakit-sakitan dan akhirnya meninggal. Bapak menikah lagi dan sekarang aku nggak tahu dimana. Aku juga tak cukup baik jadi kakak. Adikku pernah hamil di luar nikah. Aku masih sangat ingat ketika tahu dia hamil dan aku tak punya uang biayai persalinannya nanti. Adikku satu lagi harus jadi narapidana karena tindakan kriminal. Sekarang sudah keluar dari lapas tapi aku tak yakin apakah dia baik-baik saja, apakah telah sembuh dari narkoba. Tapi, sekarang dia berjuang untuk jadi orang yang lebih baik. Semoga. Komunikasi kami kurang baik. Iya, aku tak selantang tulisan-tulisanku. Lebih banyak tertutup dan sulit berkomunikasi dari hati ke hati. Tapi, kalau kalian suatu saat baca ini, Dik, kakak mau bilang kalau kakak sayang kalian tapi kakak bukan orang yang mudah mengucapkannya langsung.

🙂

Aku tinggal sendiri di kota yang cukup jauh dari asalku. Cukup berat tetapi aku merasa lebih baik walau tak baik-baik amat apalagi kalau mood-ku berulah. Aku bukan orang yang tanpa dosa pula. Tak sedikit masalah yang aku bikin sendiri. Aku bahkan tak berani menuliskan dosaku di sini.

…dan kamu yang sedang baca ini bisa jadi sama-sama menderita. Menderita kesedihan berkepanjangan.

Tapi, aku tak ingin kita sama-sama semakin sedih. Kita pastinya ingin survive dan kalau bisa jadi “orang”, kan? Tidak menyerah dengan menyakiti diri sendiri apalagi menghabisi nyawa sendiri. Tapinya lagi, tahu tidak, aku malah lebih sering takut mati. Aku sering kali merasa sesuatu yang buruk terjadi padaku. Sekali lagi tapi, mari semangat. Hidup ini – singkat atau panjang – hendaknya lebih bermakna.

  • Tuhan telah lebih tahu

Bagaimanapun dosa yang kita bikin, Tuhan lebih tahu hati kita. Atau, dosa yang orang lain perbuat sehingga berpengaruh pada kita, ingatlah masih ada Tuhan. Bukan berarti kita bebas lakukan dosa tapi paling tidak kita bisa bilang kepada-Nya, kalau kita sudah lakukan yang terbaik. Jadi, tetap semangat! Jangan biarkan diri tak bangun apabila “jatuh” bahkan “jatuh berkali-kali”.

  • Perasaan sedih itu wajar

Siapa yang tak pernah sedih? Tak ada satupun manusia yang tidak pernah sedih. Hanya saja kadarnya yang berbeda. Mungkin kita “istimewa” sehingga sedih terus-menerus. Ntah kenapa tiba-tiba bisa menangis sebelum tidur. Atau di lain waktu malah bangun karena tiba-tiba saja menangis. Tapi, jangan biarkan perasaan sedih “membunuh” kita. Sebenarnya ini cukup sulit buatku dan bisa jadi bagi kalian juga. Tapi, sekali lagi, harus paksa diri!

  • Kita harus sukses

Tak harus sekarang, tak harus besok, tahun depan, dua tahun lagi atau lebih lama lagi. Bisa jadi akan lebih lama bagi kita untuk “bangkit” dan dapat tersenyum bangga. Namun, yakinlah, ketika kita bisa atasi semua ini, ada nilai bonus bagi kita. Kita bisa sukses walau kisah kita tak berjalan mulus dan banyak musibah silih berganti. Itu akan jadi cerita yang tak dimiliki semua orang.

Kemudian, ingatlah, semenderita apapun kita – sekali lagi – ada banyak lagi yang jauh lebih menderita daripada kita. Aku termasuk tim melankolis sepertinya. Ketika aku lihat pengemis di jalan atau anak-anak di jalanan atau yang lainnya yang sangat susah, di situ aku mendorong diriku untuk tak hanyut dengan segala yang sudah terjadi atau sedang terjadi. Kehidupan kita berbeda-beda, oleh sebab itu, ada baiknya untuk tak lihat ke atas dan merasa bahwa hidup ini tak adil. Eh, hidup ini memang tak adil sih. Hanya saja, cobalah untuk bersyukur.

Jangan merasa sendirian!
Jangan merasa sendirian!

Merasa sedih terus-menerus itu tak enak juga. Pekerjaan berantakan, kehidupan sosial kita jadi tak baik atau sama sekali tak ada karya yang kita buat. Sama seperti sekarang ini, sebulan lebih, blog ini tak aku update karena ntah kenapa aku susah beranjak dari kasur dan buka laptop serta mulai menulis. Tadinya aku menangis di awal-awal paragraf tetapi semakin melanjuti tulisan ini aku merasa lebih baik. Kuharap kamu juga begitu, ya! Semoga kamu bisa tersenyum ketika menyudahi tulisan ini.

Oh iya, ternyata biaya ke psikolog itu tidak murah. Aku sudah pernah sekali bertemu psikolog saking tak tahan lagi dengan diriku sendiri. Tapi, aku akan lebih stres lagi dengan biayanya karena pusing banyak pengeluaran jadinya. Hehe.

😉

Kamu mungkin suka tulisan ini!

1 Comment

Leave a Reply