4 Alasan Mengapa Memilih Menjadi Karyawan?

Jika di seminar-seminar wirausaha didengungkan pertanyaan: “Mengapa memilih menjadi pengusaha?” Maka di artikel kali ini aku mengajukan alasan mengapa memilih menjadi karyawan.

Sedikit bercerita tentang riwayatku. Halah. Selepas SMA, hanya setahun aku kerja full-time. Setelah berkutat belajar Internet Marketing sembari jadi operator warnet, thank God, aku punya kesempatan untuk jadi full-time blogger. Iya, kerjanya dari rumah. Ngga ada yang namanya eight to five, ngga ada bos dan sebagainya. Walau saat itu, ada ‘mentor’-lah kalau mereka mau disebut mentor. Xixixi.

Nah, sekarang, setelah hampir 7 tahun men-jomblo kerja dari rumah, aku memilih jadi karyawan. Lebih tepatnya sih finally dapet panggilan kerja. Xixi. Kenapa?

Ini Alasan Mengapa Memilih Menjadi Karyawan

Mengapa Memilih Menjadi Karyawan
  1. Disiplin dan belajar konsisten

Seriously, ini masalah serius buatku. Kalau kamu sekarang berstatus freelancer atau pengusaha dan kamu bisa disiplin, it’s good! Best-lah pokoknya. Aku sempat singgung di artikel sebelumnya yang berjudul “Kerja dari Rumah itu Ngga Enak!”, ntah karena jenuh mungkin. Mungkin. But I have to make a confession that I’m not a disciplined person.

Lho bukannya kalau ngga disiplin bakal sulit untuk jadi seorang karyawan? Lebih cocok work at home?

Sorry to say, justru kamu yang menyadari kalau dirimu kurang disiplin dan konsisten HARUS DIPAKSA, semacam dicambuk. Sebagai mood swinger tingkat kronis, jadi karyawan maksa aku untuk berada di jadwal yang teratur. DIPAKSA. Itu satu-satunya cara. Berat juga lho jadi karyawan, bukan berarti mudah. Lu harus bangun pagi, bersabar dengan kemacetan dan pulang malam lalu harus cepat-cepat istirahat supaya bisa bangun pagi.

Jadi, kenapa kamu bisa bertahan selama hampir 7 tahun untuk kerja dari rumah? Mungkin kamu jenuh.

Hmm, mungkin iya. Tapi, perjalananku untuk kerja dari rumah tidak semulus di bayangan orang-orang. Hehe. Tapi ngga perlu diceritakan di sini juga ya.

  1. Penghasilan yang teratur

Hey, para karyawan yang mulai jenuh dengan rutinitas! Coba ingat-ingat saja deh bagaimana betapa berharapnya kamu tanggal gajian segera datang. Bagaimana perasaan kamu ketika sudah tanggal gajian? Senang? Iya dong.. Dan jadwal tersebut pasti terlaksana (kalau perusahaan kamu tidak suka menunggak gaji ya, hehe). Toh, di samping full-time, kamu masih bisa cari freelancer kan kalau sempet? *uhuk*

Bayangkan jika kamu jadi seorang freelancer. Penghasilan tidak teratur setiap bulan. Kadang bisa ‘kaya raya’, kadang bisa ‘jatuh miskin’. Jadi, kalau kamu sudah mulai jenuh dengan aktivitas kamu, ingat aja tanggal gajian. Duit yang diterima langsung blek!

  1. Jaminan kesehatan

Iyep! Kebanyakan perusahaan sudah pasti menyediakan jaminan kesehatan untuk karyawan-karyawannya. Rawat jalan, inap, biaya operasi dan bahkan obat-obatan. Pernah kejadian ‘sial’ nimpa aku, ketiban pintu toilet di gedung kantor. Ngga pake lama dikirimin uang buat berobat ke dokter. Ya, emang itu ‘salah pihak gedung’ juga kurang maintenance. Tapi, coba kalau aku ketiban pintu kamar kos sendiri waktu kerja di rumah, siapa yang ganti coba? Hehe.

  1. THR, Ngajuin kartu kredit dan tetek-bengeknya

Ayolah, kamu patut bersyukur karena kebagian THR. Ngajuin kartu kredit, gampang. Ngajuin kredit dan sebagainya juga. Apalagi kalau kerja di perusahaan yang bergerak di bidang finansial, kartu kreditnya diurusin ama kantor lagi! Memang segala kenikmatan yang kita terima sebagai karyawan bergantung pada perusahaan dimana kamu bekerja juga.

😉

Di artikel ini aku bukan sedang menyudutkan mereka yang jadi freelancer ataupun pengusaha. Aku juga pernah nyemplung di situ. Mungkin kelihatannya artikel ini terlalu mengagung-agungkan profesi karyawan. Iya memang. Mungkin sedikit euforia juga. Hanya saja, aku cuma mau nunjukin bahwa ini lho, profesi karyawan yang kadang dianggep monoton itu juga punya keunggulan. Jadi, jangan sampai kamu dibutakan hanya karena alasan jenuh. Aku sadari bahwa tidak semua orang, setidaknya aku, ternyata tidak begitu cocok dengan dunia ‘work at home’ tersebut. Bahkan, kalaupun status tetap karyawan tapi ngga harus ke kantor. So, ngga perlulah untuk memaksakan diri untuk berprofesi di bidang tertentu hanya karena sedang tren atau lingkungan kita banyak yang terjun ke situ. Atau, mungkin karena melihat pekerjaan orang lain sepertinya ‘asyik dan enak’ banget.

Syukuri kondisi kita masing-masing, apapun profesi kita. Jalani dengan tekun. Kalau memang menyadari bahwa dirimu bukan di bidang tertentu ATAU sudah saatnya kamu berganti profesi maka jika ada kesempatan tidak apa untuk beranikan diri keluar dari zona nyaman kamu selama ini. Garis bawahi dan cetak tebal: menyadari, itu artinya bukan sekadar rasa jenuh saja tetapi lebih dalam lagi. Kamu sendirilah yang tahu itu.

🙂

Kamu mungkin suka tulisan ini!

9 Comments

Leave a Reply