Little Big Master, Film Drama Keluarga Sarat Pesan

“Dalam kehidupan, pasti kita punya guru yang mengubah kehidupan kita”.

Itulah kira-kira salah satu penggalan kalimat yang ada di bagian ending film Hong Kong berjudul “Little Big Master”. Tepatnya tanggal 17 Oktober kemarin aku diundang ke acara Blogger Screening untuk film ini di Cinemaxxx, Plasa Semanggi. Maep yah, baru tulis sekarang. Terima kasih, Mbak @PutriKPM yang sudi mengundang diriku ke acara bertajuk “I Love HK Movies“. Kemarin blogger-blogger yang datang ada yang bawa ‘buntut’ juga, nggak ada yang berisik pas nonton.

😀

Anyway, film yang diangkat dari kisah nyata ini bakal tayang nanti malam, 25 Oktober jam 20:00 WIB di Celestial Movies. Kenapa kamu harus tonton film ini?

Kita Akan Tahu Kehidupan Anak-anak yang Sebenarnya

Little Big Master” yang berjudul asli dalam bahasa Cina yang artinya “Kepala Sekolah dengan Lima Murid” ini sesuai judulnya bercerita tentang seorang kepala sekolah dengan 5 murid. Hung (Miriam Yeung) adalah seorang kepala sekolah  TK ternama yang kemudian resign di usianya yang muda. Adegan pertama film ini diawali oleh murid yang (seharusnya) tidak bisa masuk kelas berbakat namun orang tuanya menganggap anaknya harus. Dari sini  kita sudah diberi pesan bahwa anak-anak seharusnya tidak dipaksa untuk sukses secara akademis atau di semua bidang, jika memang tidak bisa.

Awalnya, Hung berencana untuk berkeliling dunia bersama sang suami yang juga mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai perancang di sebuah musim, Dong (Louis Koo). Namun, rencana tersebut tertunda karena Hung yang terlanjur jatuh cinta untuk mengabdi di sebuah TK yang akan segera ditutup. TK di desa tersebut akan ditutup apabila tidak mendapat kepala sekolah dan 1 murid di semester berikutnya. Sementara pada saat itu, murid yang tertinggal hanya 5 anak saja. Tanpa guru dan tanpa kepala sekolah. Murid-murid tersebut sulit secara ekonomi dengan berbagai latar belakang. Mereka adalah Siu Suet, Ka Ka, Chu Chu dan kembar Kitty dan Jennie.

Berbekal dukungan sang suami, Hung pun memutuskan untuk jadi kepala sekolah merangkap guru dan bahkan tukang bersih-bersih dengan gaji hanya 4,500 Dolar Hong Kong. Berharap dengan berbagai upaya agar sekolah dan anak-anak tersebut terselamatkan pendidikannya.

***

Little Big Master

Bagaimana ending ceritanya? Jangan harap sesuatu yang mulus-mulus saja dan klise. Harus tonton sendiri supaya menikmati prosesnya. Sedikit spoiler, ending film ini benar-benar menguras air mata. *ihik* *ambil tissue* *itu bukan spoiler yak namanya* Tapi, tenang! Little Big Master nggak akan hanya bikin kamu menangis tersedu-sedu sepanjang film kok, that’s not film menye-menye. Kamu bakal diajak untuk senyum-senyum dan bahkan tertawa juga!

Film bergenre drama keluarga ini benar-benar cocok untuk ditonton oleh sekeluarga. Sarat pesan, baik bagi guru, orangtua dan juga anak-anak. Bahkan masyarakat luas. Ya, kita semua!

Aku tidak perlu cerita panjang-lebar tentang film ini ya karena kalian memang harus tonton sendiri. Tapi, aku senang berbagi beberapa pesan yang aku dapat dari “Little Big Master” yang meraup pendapatan hingga 46,6 juta Dolar Hong Kong (setara 80 miliar rupiah) ini.

  1. Peran guru

Peran guru yang tidak sekadar mencari penghasilan tetapi juga benar-benar mengajar murid-muridnya sangat penting. Seperti kutipan yang aku sampaikan di awal artikel ini, seorang guru bisa mengubah kehidupan murid-muridnya. Inilah pesan besar dari film “Little Big Master”.

Mirriam Yeung sendiri berujar dalam salah satu wawancara mengenai Little Big Master: “..berkomunikasi dengan anak-anak, Anda perlu bersikap seolah-olah Anda sejajar dengan mereka dibandingkan melakukan pendekatan atas-bawah”.

  1. Jadi banyak belajar kehidupan anak-anak

Anak-anak itu tidak “sepolos dan tidak tahu apa-apa” seperti yang mungkin dianggap umum. Mereka juga manusia, kan? Mereka bisa merasakan perasaan orang dewasa, bahkan mereka juga bisa mengerjakan pekerjaan orang dewasa. Tidak hanya itu mereka juga turut kuatir atas keadaan orang dewasa.

Adegan yang bikin aku tersentuh dan hampir nangis kejer (di bioskop aku tahan-tahan, hehe) adalah ketika anak yang bernama Lo Ka Ka tidak mau masuk sekolah karena orangtuanya bertengkar. Dia bilang: “Aku takut bisa saja mereka saling membunuh satu sama lain”. Jleb! Kadang orangtua merasa anak-anak tidak tahu apa-apa, padahal itu karena mereka tidak bertanya apa perasaan anak mereka.

Little Big Master

  1. Orang dewasa juga punya impian, hanya saja pura-pura melupakannya

Ketika kita membayangkan masa kanak-kanak, pastilah tidak lepas dari yang namanya mimpi. Namun, seiring usia, sering kali kita orang dewasa menampik impian yang pernah kita buat. Adegan di bagian yang ini bikin aku benar-benar terketuk juga. Murid-murid diberi tugas untuk menanyakan impian orangtua mereka. Orang dewasa malah menganggapnya sebagai lelucon.

  1. Peran orangtua dan semua orang

Yang paling aku suka dari film ini adalah bagaimana ceritanya tidak hanya berfokus pada sang guru saja. Di film ini kita diberi pesan nyata bahwa sesuatu akan berhasil kalau semua pihak turut bekerja sama. Memang ada penggeraknya namun kalau target yang mau digerakkan tidak mau, bagaimana? Nah, poin ini paling aku suka. Di film ini sebenarnya yang berusaha bukan hanya kepala sekolah Hung saja. Makanya sekali lagi, jangan lupa yah untuk nonton.

🙂

Film yang bagus itu tidak hanya soal ceritanya saja tetapi juga pesan yang disampaikan. Terbukti, Little Big Master bisa dibilang bukan film megah (a la Hollywood atau mafia Hong Kong, duh, jangan dibandingkan karena beda genre), tetapi lewat kesederhaan ceritanya sebenarnya mengandung pesan yang megah.

Lagipula, seorang guru yang mau mengabdi untuk 5 murid dari TK yang hampir tutup. Bukankah itu namanya pahlawan? Ah, jadi keinget guruku yang dulu bebasin uang kursus Ujian Nasional SMA, karena aku tidak punya uang.

Selamat menonton! ^^v

Kamu mungkin suka tulisan ini!

1 Comment

Leave a Reply