Beginilah Rasanya Hidup Sendiri…

Ketika tak ada uang, seakan tanpa harapan.

Saat berlimpah uang malah seperti tak ada tujuan.

Dulu waktu kecil dan masih tinggal di rumah orangtua, tak sedikit dari kita membayangkan betapa serunya apabila nanti hidup sendiri di kos, asrama ataupun di rumah lain ataupun di kota lain yang dekat ataupun jauh. Intinya, tak serumah lagi dengan orangtua. Kita membayangkan diri yang begitu bebas, bisa menentukan sendiri apa yang akan dimakan hari ini, kemana dan jam berapa pulang. Yang paling seru adalah mengatur uang dan deg-degan menunggu kiriman uang ortu (apabila sedang menempuh pendidikan). Atau, bagi yang sudah bekerja – waktunya mengirimkan sesuatu pada ortu.

Menantang? Tentu saja.

Seru? Iya banget.

Indah? Ternyata tak seindah dalam bayangan.

hidup sendiri

Rasanya Hidup Sendiri Akan Berbeda Kalau…

Temen kantorku, @aqassmu, dia nggak punya ortu sejak kecil dan dibesarkan oleh neneknya – mesti menjalani yang namanya hidup sendiri. Tanpa saudara kandung pula karena anak satu-satunya. Dia pun coba merantau ke Jakarta mengadu nasib. Dia bilang: “Awalnya pasti kesepian karena hidup di lingkungan baru itu nggak gampang.”

Iya, rasanya hidup sendiri itu jauh akan lebih berbeda kalau kita, ya, benar-benar sendiri. Memang, kita semuanya tak sepenuhnya sendiri – pastilah masih punya kerabat. Namun, rasa-rasanya, ‘hidup sendiri’ yang diimpikan dahulu ketika kecil bukanlah seperti ini.

🙂

Kadang kala, rindu juga untuk menelepon dan menyebutkan kata “Mama”, atau “Ibu atau “Bunda” atau apalah yang memaksudkan wanita yang melahirkan kita. Rindu juga untuk memanggil “Ayah”, “Bapak” atau sebutan lain yang sejenisnya.

…dan kadang rindu untuk menangis melalui telepon untuk bilang bahwa hidup merantau itu ternyata cukup menyiksa.

Aku sendiri masih punya keluarga dekat yang sudah aku anggap seperti pengganti Bapak-Ibu. Namun tetap saja rasanya berbeda.

Hidup Benar-benar Sendiri itu…

  • Seperti kesasar di tempat yang tak diketahui

Apalagi kalau akhirnya kita memilih untuk merantau untuk beradu nasib. Ketika mendarat dan memulai hidup baru di tempat baru – hampir tak ada yang kenal dan mengenal kita – itu rasanya seperti tersesat ntah dimana.

  • Bengong di dalam kamar kos sendirian

Jangan bayangkan kita bakal punya temen hang-out yang bisa diajak ketawa-ketiwi kemudian bisa ngobrol ngalur-ngidul di kosan. Percayalah! Awal-awalnya kita bakal hanya bengong di kamar kos sendirian.

😀

  • Seperti tak ada harapan dan tak ada tujuan

Sebagaimana kalimat yang aku ucapkan di awal tulisan ini, ketika tak ada uang seperti tak ada harapan. Jujur saja, aku pernah sama sekali nggak punya uang lagi. Harus rela makan indomie yang sudah distok dan tinggal itulah. Rasa-rasanya besok akan mati. Namun, di lain waktu, ketika berlimpah uang malah impulsif seperti tak ingat masa depan dan tak punya tujuan.

Iya, kita bisa seperti itu kalau kita merasa benar-benar sendiri. Padahal, sebenarnya, kita tak sendirian…

Jika tak punya Bapak-Ibu lagi, kemungkinan kita punya keluarga yang sempat membesarkan kita atau paling tidak berjasa bagi kita. Anggaplah mereka Bapak-Ibu. Memang kita mungkin tak bisa bermanja-manja sebagaimana pada orangtua kandung kita. Kita pun pastilah sungkan untuk meminta bantuan mereka saat kita benar-benar tak punya sesuatu apapun di perantauan. Berat? Iya, berat banget. Akan tetapi, jadikanlah hal tersebut sebagai “keistimewaan’. Kamu spesial! Kamu memulai hidupmu ibaratnya dari “0” sendiri dan pastilah akan indah pada waktunya.

Jangan berpikir hidup seperti tanpa tujuan. Memang sewaktu-waktu bisa saja meski sudah punya banyak teman sekalipun di daerah baru – kita punya perasaan “kosong” dan sendirian. Namun, kita masih punya tujuan. Hidup masih panjang. Ada banyak kejutan di hari esok! Kita pasti punya sahabat yang seperti keluarga. Siapa pula yang tahu kelak kita akan membentuk keluarga baru, memiliki seseorang atau bertambah pula kelak menjadi beberapa orang.

Ya, masih ada esok yang menyimpan kejutan!

Dear, Readers. Maafkan daku yang menuliskan sesuatu yang ngalor-ngidul ini. Aku sekarang sedang merasa “sendiri” saja jadi butuh pelampiasan agar tak begitu hanyut dengan perasaan sendiri ini. Sejujurnya, aku belum sepenuhnya mampu hidup sendiri dan mandiri.

🙂

Meski begitu, aku tetap ingin bilang ke kalian yang struggle buat hidup kalian bahwa:

Kita mungkin hidup sendiri tapi sebenarnya kita tak sendirian.

Kamu mungkin suka tulisan ini!

2 Comments

Leave a Reply