Terlalu Banyak Drama dalam Pacaran?

Pernah suatu kali aku denger suara tangisan dari seseorang di kamarnya. Nangis kejer. Pacarnya bahkan sampe kirim pesan ke aku, minta tolong buat nenangin si cewek. FYI saja, aku nggak deket sama pasangan ini.

See? Pasti ada masalah, kan, di antara mereka berdua?

Aku jadi cukup prihatin dan sekaligus sedikit mengerti kalau apa yang terpampang di luar, ternyata bisa jadi tidak seindah itu. Di kasus ini, padahal selama ini pasangan tersebut terlihat baik-baik saja bahkan mesra bener. Pakai panggilan sayang, tiap hari anter-jemput, sering telponan dan sebagainya. Tapi, sayangnya, kalau udah berantem – ketauan banget.

Memang bukan berarti kita juga harus nutupin kalau ada masalah. Wah, bahaya juga. Ada orang yang berhak tahu. Tapi, sebaliknya juga nggak baik kalau kita ketauan banget ada masalah sama pacar.

Ini hanya sebagian kecil drama dalam pacaran. Capek dengan pacar atau ‘gaya’ pacaran kamu sekarang? Bisa jadi tiga sumbernya: Kamu, pacar kamu atau dua-duanya.

🙂

Ayolah, mari kita instrospeksi diri masing-masing. Pacaran tujuannya menikah, bukan? Menikah itu harusnya jadi ikatan seumur hidup. Kalau sekarang aja lebih banyak masalahnya daripada bahagianya, gimana nanti pas udah nikah?

Mungkin, kita terlalu banyak memainkan drama dalam pacaran.

Tanda-tanda Banyak Drama dalam Pacaran

  1. Lebay

Yang namanya drama pasti agak lebay, ya? Nggak salah sih untuk ungkapin rasa sayang ke pacar – bahkan ke publik sekalipun. Tapiii, kalau TERLALU itu namanya lebay. Orang lain juga bakal risih. Aku nggak perlu jelasinlah bigimana pacaran yang lebay ituh. Setiap orang punya standar masing-masing tapi juga harusnya jujur apakah udah terlalu lebay atau nggak.

Nah, sayangnya, beberapa yang terlalu lebay ini juga lebay banget kalau udah ada masalah. Semua orang bakal tahu kalau dia lagi ada masalah.

Yang lainnya mungkin lebay soal hal-hal sepele. Misalnya karena pacar lagi nggak bisa anter atau jemput, dia langsung melebih-lebihkan masalah dengan marah-marah dan ungkit-ungkit yang lain. Duh! Mikir lagi deh kalau nemu yang begini.

😀

  1. Lebih banyak berantem daripada bahagianya

Yang namanya pacaran pasti nggak lepaslah dari beberapa konflik. Adik-kakak aja bisa berantem yak, nah apalagi proses menyatukan dua orang dari latar belakang berbeda. Drama beranteman gitu pasti ada. Haha. Tapi biasanya seiring waktu akan mulai berkurang. Lagipula, masih akan ada masalah yang jauh lebih pelik di masa depan daripada soal beranteman-beranteman masalah sepele. Dimana kalian harus mengambil banyak keputusan penting.

Kalau kamu dan pacar lebih banyak berantemnya daripada bahagianya, hmm… Ayo, introspeksi diri. Apa kita yang memang nggak bisa meredam emosi ataukah pasangan kita atau malah dua-duanya. Coba bicarakan baik-baik. Komunikasi yang baik menentukan kesuksesan masa pacaran kalian dan tentunya fase menikah nanti.

Oiya, kalau bisa, ya, hindari sumpah-serapah. Duh, malu banget, kalau lagi baikan bisa sayang-sayangan sampe seluruh dunia tau. Eh, pas uda berantem malah sumpah-serapahan. Belum lagi kalau ‘main fisik’. Hmm, putusin aja dah!

  1. Waktumu habis hanya untuk dia, dia dan pacaran

Waktu pacaran kalian bisa telponan berjam-jam pagi, siang, sore, malem, mau tidur dan mau bangun eh maksudnya uda bangun? Plus, ditambah lagi texting nggak bisa lepas. Udah gitu ketemu lagi tiap hari. Sampe-sampe kamu nggak bisa bergaul dengan teman-teman lainnya dan ngga punya ‘me time’.

drama dalam pacaran

Dear, My beloved friends, pacaran bukan hanya tentang sekarang tetapi malah harusnya punya tanggung jawab buat ‘masa depan’. Kalau waktumu habis hanya untuk pacaran saja, kapan kamu belajarnya? Belajar untuk me-manage diri sendiri, belajar introspeksi diri, belajar untuk bersih-bersih (karena waktumu tersita sampe-sampe nggak sempet bersih-bersih), belajar untuk masak dan belajar hal-hal lainnya. Hihihi.

So, mulai sekarang kurangi drama dalam pacaran. Mending bikin drama dalam tulisan kamu aja deh, terus dibukukan, atau dijadikan film atau sinetron. Eits, tapi jangan lupa bikin peringatan ke penikmat karya kamu tersebut kalau itu hanya fiksi – nggak boleh dipraktikin dalam dunia nyata.

Kamu mungkin suka tulisan ini!

5 Comments

Leave a Reply