Maaf! Depresi dan Bunuh Diri Bukan Mental Instan

Jujur saja dulu aku pun pernah berpikir “ah, elah, ngapain sih harus sampai bunuh diri”. Di lain waktu bahkan pernah bilang “kenapa ga sekalian aja cari cara bunuh diri yang langsung bikin mati” saat ada berita mengenai gagal bunuh diri.

Tapi, sekarang, aku sadar bahwa hingga capai proses pemikiran bunuh diri itu kompleks. Salah satu alasannya adalah aku ternyata harus berada di situasi tersebut. Situasi yang bikin aku ingin mati saja. Di tulisan mengenai “broken home”, aku bilang jangan sakiti diri sendiri dengan sayatan namun malah aku menyakiti diriku sendiri. Tenang! Saat aku menulis ini sekarang, setidaknya sekarang, aku sudah baik-baik saja, kok.

🙂

Mengapa Depresi dan Hingga Putuskan Bunuh Diri itu Kompleks?

Depresi dan bunuh diri kompleks
Depresi dan bunuh diri kompleks

Aku bukan orang medis atau ahli kejiwaan dan di tulisan kali ini, aku hanya ingin sampaikan apa yang jadi pandanganku. Menurutku, hampir nggak ada orang yang tiba-tiba “pengin” bunuh diri seketika itu juga. Biasanya proses hingga keputusan itu terjadi cukup panjang. Cukup masuk akal nggak sih? Kita manusia memang diciptakan untuk hidup dan jika ditanya ke dalam hati paling dalam, seberat apapun hidup ini, pastilah sebenarnya ingin hidup… Bakan 1000 tahun lagi kalau kata pujangga. Namun, sering kali JALAN PANJANG menuju proses tersebut sering kali tidak diperhatikan oleh orang-orang terdekatnya. Ada yang denial ada pula yang judge bahwa mereka yang terjerat depresi dan apalagi berpikir bunuh diri terlalu lebay dan sebagai-sebagainya. Yang lebih parah adalah saat kematian sudah jadi berita biasa dan memang manusia juga telah tercipta untuk mati, orang-orang merasa bahwa itu adalah siklus semestinya.

“Who cares if one more light goes out, in the sky of a million stars?”

—Linkin Park, One More Light

Problem Penyebab Depresi dan Bunuh Diri Tidaklah Sama

Ada satu pemikiran yang menurutku cukup kejam: orang depresi dan akhirnya bunuh diri HARUSLAH karena persoalan yang sangat sangat sangat berat. Padahal berat tidaknya suatu problem tidaklah sama bagi satu orang dengan orang lain. Aku pun dulu sempat berpikir begitu. Namun, kini aku ingin belajar untuk mulai memahami orang lain.

Pernah suatu ketika, aku akhirnya bilang ke temenku – saking tidak tahannya karena dianggap aku moody-an, dan sebagainya *padahal iya* – kalau beban hidupku berat. Di situlah baru temanku tersebut memaklumi keadaanku setelah sebelumnya masih bertanya “seberat apa sih beban hidup lu?”. Setelah aku ceritakan apa yang aku alami, barulah temanku tersadar bahwa memang berat. Haha. Tapi! Sebenarnya aku tak ingin pemikiran tersebut. Pemikiran bahwa orang boleh depresi kalau dia punya beban hidup yang sangat sangat sangat berat.

Faktanya, kemampuan setiap orang meng-handle masalah berbeda-beda. Bahkan, tidak hanya itu, ada orang yang memang berbakat untuk lebih cepat stres dan punya penyakit mental. Iya, ini penyakit. Sama halnya seperti penyakit diabetes, demam dan penyakit fisik lainnya. Hanya saja wujudnya tak dalam bentuk yang kentara. SAYANGNYA, masih ada saja orang menampik bahwa ini bukan penyakit tetapi hanya perasaan saja. Sampai-sampai aku berpikir begini: Ntah kenapa ketika bilang sakit demam lebih berterima kemudian disuruh ke dokter serta diucapkan cepat sembuh. Tapi, kalau bilang “aku lagi stres, depresi”, sering kali diucapkan: “Ah itu cuman perasaan kamu aja.”

Bukan Mental Instan, Mereka Telah Berjuang Sekuatnya

Sebagaimana telah aku sempat singgung, ada jalan panjang hingga seseorang menderita depresi dan yang disayangkan memilih untuk bunuh diri. Aku bukan pendukung keputusan untuk bunuh diri karena aku sadar dan menurutku menghilangkan nyawa sendiri berarti membuang hadiah berupa kehidupan dari Sang Pencipta. Tapi, aku juga mencoba untuk tidak denial terhadap alasan bunuh diri.

  • Orang depresi dan bunuh diri sebenarnya berjuang

Tak ada yang instan. Proses tersebut berlangsung dalam waktu tertentu. Mereka awalnya sangat sangat depresi karena sesuatu hal dan berjuang penuh untuk melawannya.

  • Hanya saja ada yang cukup denial

Aku tak ingin menyalahkan orang lain namun nyatanya ada yang cukup denial, bahkan mungkin keluarga terdekat. Kadang bahkan orang yang menderita depresi itu pun denial bahwa dia baik-baik saja. Akhirnya, memilih untuk coba mengalihkan perasaan-perasaan negatif dengan jadi orang yang berbeda. Padahal di dalam sangat rapuh. Untuk beberapa saat atau kasus mungkin it works. Tapi, tahu tidak bahwa cara yang lebih ampuh adalah menyembuhkannya bukan mengalihkannya.

“I’m strong on the surface. All the hurt inside I’ve learned to hide so well.”

—Linkin Park, Leave Out All the Rest

  • Mereka yang depresi dan ingin bunuh diri sering kali telah minta tolong

Mungkin kamu pernah dicurhatin oleh seseorang dan bahkan bilang bahwa dia ingin mati saja atau memilih berencana untuk mengakhiri hidupnya? Tolong, jangan abaikan dia. Saat dia bicara seperti itu, dia sedang minta tolong padamu. Dia bisa mengungkapkan isi hatinya, itu adalah keberanian yang sudah dia berjuang kumpulkan. Jadi, tolong, jangan tertawakan dia. Jangan pula remehkan apa yang dia rasakan dan alami.

Roh memang penurut namun daging lemah.

Jadi, please, jangan bilang lagi bahwa mereka yang bunuh diri atau memiliki niat bunuh diri bermental instan. Kita nggak tahu seberapa berat perjuangan mereka. Kita perlu paham bahwa roh memang penurut namun daging lemah. Atau… Mungkin saja kita di kemudian hari malah berbelok ke proses yang sama. Akan tetapi, jika bisa, tak perlulah kita alami dulu baru kita dapat memahami. Siapa yang menolong mereka yang depresi dan ingin bunuh diri kalau kita baru bisa paham saat mengalami hal yang sama? Jadi, kalau kamu merasa kamu normal, kami butuh kamu, Sahabat!

🙂

Kamu mungkin suka tulisan ini!

3 Comments

  1. Masih ada loh di grup yang aku ikuti mereka bilang ini gangguan mental dan imannya lemah. sudah lah bosan beradu debat dengan mereka, maka ku biarkan mereka ngomong sepuasnya :)))

  2. Very well said (or written), Kak. :’) Setuju banget, orang yang depresi ga butuh diceramahin. Mereka cuma butuh dirangkul dan didengarkan. The least thing we could do is understanding & not judging them.

Leave a Reply