Cerpen: Seleb Blog

Tulisannya yang di blog, dijadikan buku. Sekarang dia jadi salah satu blogger beken seantero Indonesia. Bukan hanya dia. Ada lagi nih, yang karena nge-blog, dia bisa keliling Indonesia. Yang ini bisa menghasilkan puluhan juta per bulannya. Yang itu, tiap posting, menuai ratusan komentar. Dalam hatiku berkata: Wah! Hebat banget deh! Kapan ya aku bisa seperti mereka?

            Sekarang aku menatap layar netbook – hadiah dari salah satu lomba blog yang pernah kuikuti, menatap blog-blog dari seleb blog itu. Sambil daguku berpangku di tangan kiri, mouse-ku di tangan kanan. Meng-klik link-link yang bisa di-klik. Membaca-baca apa yang ingin dibaca, atau hanya sekadar melihat bagaimana sih blog-blog dari seleb blog itu. Tak dipungkiri rasa iri berkembang juga dalam benakku. Seraya aku melihat-lihat blog dari seleb blog itu, terputar ulang rekaman di otakku mengenai workshop blogging yang aku hadiri tadi pagi.

            “Kamu harus belajar dari kakak ini. Dia udah jalan-jalan keliling Indonesia karena nge-blog.”

            Salah satu senior dari komunitas blogger di daerahku bilang gitu. Ya, itu memotivasiku sih. Tapi, ntah kenapa pada saat itu, aku merasa iri sangat! Sangat! Belum lagi, dia mengatakannya di depan si seleb blog itu. Dalam pikiranku mengatakan: Cuma masalah waktu saja. Sekarang aku tinggal menunggu saja. Blog-ku juga tidak kalah dari dia. Senior yang lainnya dari komunitasku bilang: “Kapan jadi kaya’ dia? Kamu ngga kalah koq. Blognya yang temanya umum aja bisa kayak sekarang, apalagi blog-mu yang niche!”

            Senyumku mengembang mengingat perkataan itu. Aku sudah 2 tahun nge-blog. Untuk trafik, bisa dibilang, oke lah. Ribuan pengunjung per hari, dengan teknik SEO atau optimasi di mesin pencari yang aku pelajari hasil perjalanan kegiatan blogging yang aku tekuni selama ini. Tapi, ya selalu ada tapi untuk segala sesuatu, pahamku sampai pada kesimpulan ‘tapi’.

            Branding, branding, branding. Aku sampai pada salah satu blog terkenal yang membahas soal branding. Ini bukan pertama kalinya aku membaca artikel mengenai branding di blog, cara mendapatkan komentar yang melimpah dari blog, memiliki pengunjung setia dan sebagainya dan sebagainya. Bukan pertama kalinya juga, aku mempertanyakan branding dari blog-ku. Aku berkata lagi pada diri: Mendapatkan ribuan pengunjung setiap harinya memang mudah. Tapi, branding dan dikenal orang seperti seleb blog itu? Kayaknya butuh waktu lama deh buat itu. Bahkan mungkin pun tidak akan pernah!

            Tiba-tiba saraf-saraf di otakku ibarat memundurkan seeking bar di Winamp, hingga otakku memutar ulang kata-kataku dalam hati barusan: ‘Mendapatkan ribuan pengunjung setiap harinya memang mudah’. Seeking bar dalam otak ini semakin memundur lagi hingga awal-awal aku nge-blog.

            Mendapatkan pengunjung ribuan per hari? Tidak pernah terbayang awalnya dulu untuk mendapatkan ribuan pengunjung per hari. Dulu. Ya, dulu, yang terbersit dalam pikiranku adalah: hanya menuangkan ide dalam otak dan hati, agar tidak menumpuk di dalam saja yang akhirnya bisa tertimpa dan hilang.

            Komentar pertama hadir. Aku senang. Ada yang menanggapi posting-ku. Yang mengakibatkanku, terlibat diskusi dengannya. Kuintip blog-nya, membaca-baca posting di blog-nya. Aku pun tergerak untuk berkomentar di blog-nya. Tak kusangka, komentar-komentar dari blogger lainnya pun berdatangan ke blog-ku. Kubalas dengan mengunjungi balik blog-blog tersebut. Membaca-baca artikel-artikel yang aku rasa menarik dan memberi komentar, hingga aku tahu itu namanya blogwalking.

            Blogwalking. Lama-kelamaan pemahamanku mengenai blogwalking seiring waktu berubah. Semangatku untuk blogwalking makin membabi-buta.

            “Thanks for  the information.”

            “Thanks for the info. Dicoba.”

Bahkan aku pernah menulis komentar, hanya dengan pakai emoticon:

            “:)”.

Sekarang? Aku kesal banget melihat komentar yang seperti itu. Tatapan mataku kembali lagi ke dasbor blog-ku di bagian komentar. Membaca komentar-komentar yang mirip diriku sewaktu terlalu bersemangat untuk blogwalking agar mendapat kunjungan balik:

            “Thanks for the info.”

            “Artikelnya keren. Kunjungi blog-ku yah.”

            Mouse-ku masih di tangan kanan, daguku berpangku di tangan kiri. Yang berbeda adalah, senyum kesal sinis sok hebat mulai berubah menjadi senyum geli. Bukan maksudku menertawakan mereka yang masih baru-baru saja nge-blog yang biasa disebut newbie, aku juga masih newbie kok. Tapi mereka mengingatkanku pada diriku yang dulu!

            “Kurasa hampir setiap blogger pernah melakukannya kali, ya. Walau nggak persis seperti ini komentarnya: Thanks for the info, dan kawan-kawannya. Aku rasa fast-reading dan berkomentar seadanya, pernahlah.”

***

            SEO. Dari perjalanan blogwalking-ku, aku terdampar ke artikel-artikel blog yang membahas soal SEO. Search Engine Optimization. Bahasa Indonesianya: Optimisasi mesin pencari. Wikipedia bilang, Search Engine Optimization didefinisikan:

            “Serangkaian proses yang dilakukan untuk meningkatkan volume dan kualitas trafik kunjungan melalui mesin pencari menuju situs web tertentu. Tujuan dari SEO adalah menempatkan situs web pada posisi teratas atau paling tidak di halaman pertama hasil pencarian berdasarkan kata kunci tertentu yang ditargetkan.”

            Tidak puas dengan kunjungan-kunjungan ke blog-ku yang hanya berasal dari blogger. Aku mulai menerapkan SEO ini pada blog-ku. Mempelajari tips-tipsnya dan apa-apa saja yang dibutuhkan oleh suatu blog agar dapat mencapai tujuan dari SEO tersebut.

            Benar! Dalam beberapa waktu, ribuan pengunjung telah kuperoleh setiap hari. Aku berpikir:

            “Ngga terlalu pentinglah lagi untuk blogwalking. Toh blog-ku sudah punya kunjungan hingga ribuan per hari.”

            Kembali pada paham ‘selalu ada waktu untuk segala sesuatu’. Walau punya ribuan kunjungan per hari, sering kali tidak ada yang menanggapi posting di blog-ku. Rekaman di otakku mundur  lagi ke belakang, ketika aku semangat untuk membaca dan berkomentar di blog-blog lain, walau hanya berkomentar sekadarnya, waktu itu terasa ramai. Aku dan mereka seperti memiliki hubungan dekat yang tidak bisa berpisah. Harus saling berkomentar. Blog pun tampak hidup.

            Aku teringat materi workshop blog tadi pagi. Interaksi, itu yang membedakan weblog atau yang lebih dikenal dengan sebutan blog – dengan web. Blog memang dirancang dengan kolom komentarnya yang memungkinkan pengunjung berkomentar.

            Hal itulah yang sekarang aku sadari telah aku lupakan. Aku tidak begitu peduli lagi dengan komentar-komentar yang masuk. Khususnya pengunjung yang adalah blogger juga, aku tidak menyempatkan diri lagi untuk mengunjungi blog mereka dan berkomentar. Bahkan, kadang aku telah gengsi untuk berkunjung balik atau memberi komentar di blog blogger lainnya, hanya karena merasa blog-ku lebih ‘besar’ daripada yang lainnya.

            Tidak ada yang salah dengan SEO, tidak ada yang salah dengan tidak ada komentar. Setiap blogger punya hak untuk tidak blogwalking. Tapi, rasanya seperti ada yang kurang ketika menghentikan bagian dari kegiatan blogging tersebut, yakni blogwalking, apalagi didasarkan pada motif arogan.

            Motif arogan. Apakah ada blogger lain yang sepertiku? Aku bertanya dalam hati. Mungkinlah aku satu-satunya. Aku berharap begitu – hanya aku. Ketika blogger lain saling mengisi dan membentuk jaringan, aku malah berkutat dengan diri sendiri, sama seperti sekarang. Daguku masih berpangku di tangan kiriku, mouse-ku di tangan kanan. Penjelajahanku hanya berkutat di dasbor blog-ku, berputar-putar di situ saja!

***

            Kugerakkan mouse-ku, sekarang daguku tidak berpangku lagi pada tangan kananku. Aku mulai mengetikkan nama domain blog dari seleb blog yang satu meja denganku tadi pagi. Hanya saja kali ini, kuupayakan tanpa perasaan iri. Dia sudah nge-blog jauh lebih lama daripada aku.

            Kubaca postingan pertamanya dan beberapa yang lainnya. Tampak alami. Tampak tidak ada tujuannya dari awal untuk populer. Kubaca postingan terakhirnya. Ada sesuatu yang menarik yang aku dapatkan. Dia punya blogger-blogger yang setia berkomentar di postingan-postingannya, dari awal dia nge-blog hingga sekarang.

            Kubandingkan dengan blog-ku. Sepertinya, yang dulu-dulu berkomentar di blog-ku, tidak kenal lagi denganku. Aku menghela nafas kemudian mencoba tersenyum lagi. Aku tahu dan menyadari alasannya.

            Aku menggerakkan mouse-ku ke sidebar blog-nya, ku-klik kanan add new tab pada link Twitter-nya di browser. Kuputuskan untuk mem-follow akun Twitter-nya. Siapa tahu mendapatkan informasi yang sangat bermanfaat buatku, pikiranku mendesakku. Aku teringat pada kata-kata seniorku tadi pagi:

            “Kamu harus belajar dari kakak ini. Dia udah jalan-jalan keliling Indonesia karena nge-blog.”

            Tidak perlu bermotif agar seleb blog itu mengenalku. Tapi, yang penting bagaimana aku bisa mempelajari sesuatu dari dia.

***

            Tiba-tiba ada tweet dari salah satu blogger yang baru aku kenal di acara workshop blog tadi pagi – yang pas banget dengan yang aku pikirkan. Dia bertanya:

            “Apa sih yang bisa membuat seseorang disebut sebagai blogger?”

            Yang aku jawab:

            “Yang disebut blogger itu – jika dia meng-update blog-nya secara berkala, update itu yang penting!”

            Dalam hatiku, aku melanjutkan:

            “Jadi seleb blog atau tidaknya, yang penting adalah pada bagian update itu. Kalau pun dianggap seleb blog suatu saat, anggaplah itu bonus!”

***

~Cerpen ini ditulis sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu. Kutemukan tidak sengaja ketika membongkar surel-surel lama.

8 Comments

  1. Btw aku baca ini sampai habis, hmmmm …memanage pembaca setia terkadang dibutuhkan juga menurut aku, siapacth bermanfaat di suatu hari nanti, entah pd saat kita sudah berada di atas sbg akibat dari aktivitas blogging

  2. salam kenal kakak. Tetap semangat neblog dan kelak smg bisa juga jadi seleb blogger. Saya pun berharap demikian. Pen kayak blogger2 yang produktif….

  3. Cerpen yang menarik, mbak. masih up to date dengan kejadian sekarang. khususnya blogger nubie. hehehehe….

    Memang akhirnya, ada dalam ujung perjalanan ngeblog, tetap update membuat konten dan berinteraksi dengan pembaca adalah hal yang jauh lebih penting drpd SEO-SEO-an… kan memang ngeblog adalah sebuah kegiatan untuk berbagi dan berkoneksi.

    kalau ada cepretan atau siraman rejeki dari ngeblog. hahaha… ini sudah beda urusan. ini buah dr konsistensi… kadang tak terprediksi.

    😀

  4. Selamat siang.
    Perkenalkan saya Vinia dari KOTAK CERPEN, boleh saya publish cerpen Mbak Helda di website kami? Untuk nama penulis akan kami lampirkan di cerpen. Dan kami berharap cerpen Mbak Adel akan semakin banyak pembaca. Ditunggu respon secepatnya, Atau bisa email ke vinia@kotakcerpen.com. Terimakasi ^_^V

    1. Halo, Mba Vinia.

      Feel free to repost. Saya sangat senang, yang penting dikasih credit, yah. Sekali lagi terima kasih banyak sudah mampir, Mba Vinia.

Leave a Reply