Cari Penghasilan Tambahan atau Hemat? Pilihlah Berhemat

Tiba-tiba aku tertarik menulis topik yang ada di judul artikel kali ini karena sempat nulis topik yang hampir sama. Beberapa waktu lalu untuk pekerjaan kantor, aku menulis tentang pengelolaan utang-piutang dan kaitannya dengan berhemat ataukah cari penghasilan tambahan.

Dari situ, terbersit dalam benakku sebenarnya sekarang aku sendiri pilih yang mana, ya. Kebutuhan hidup makin tinggi. Kadang diikuti pula dengan kebutuhan gaya hidup. Percayalah! Makin tinggi penghasilan kita bakal diikuti pula dengan tingginya gaya hidup. Meskipun sebenarnya kita bisa mengeremnya – seharusnya.

***

Aku pernah dengar satu statement dari temenku, begini:

“Kalau tidak bisa berhemat maka cari uang sebanyak-banyaknya.”

Continue Reading

Penipuan Skema Ponzi, Keuntungan Awal Memang Menggiurkan!

“Tante ditawarin bisnis. Jadi bisnisnya itu kita deposit uang sekian, nanti kita bisa dapat keuntungan 15% 2 minggu, alias 1% per hari. Rencananya mau masukin 10 juta aja, kan lumayan 2 minggu, gak kerja, bisa dapat 11,5 juta. Bank aja nggak bisa kasih bunga segitu. Paling cuma 2%. Tante kemarin masukin 200 juta ke BCA, nggak bisa dapet segini banyak. Temen Tante udah dapet dari bisnis ini, dia kemarin kasih lihat Tante.”

“Bisnis apa namanya, Tante?”

“Promonestititblablabla.. Bisnisnya udah ada ijin pemerintah, ada badan hukumnya, jadi kalau kenapa-kenapa kita bisa tuntut. Blablablaa… (aku udah gak denger lagi).”

“Oh, produknya apa?”

“Ada tiket pesawat, pulsa dan banyak lagi. Udah kerjasama dengan Indomaret, Alfamart.. Tapi kita nggak perlu jalanin bisnis itu, cukup masukin uang aja udah dpt 1% per harinya!”

“Oh…”

Continue Reading

4 Alasan Mengapa Memilih Menjadi Karyawan?

Jika di seminar-seminar wirausaha didengungkan pertanyaan: “Mengapa memilih menjadi pengusaha?” Maka di artikel kali ini aku mengajukan alasan mengapa memilih menjadi karyawan.

Sedikit bercerita tentang riwayatku. Halah. Selepas SMA, hanya setahun aku kerja full-time. Setelah berkutat belajar Internet Marketing sembari jadi operator warnet, thank God, aku punya kesempatan untuk jadi full-time blogger. Iya, kerjanya dari rumah. Ngga ada yang namanya eight to five, ngga ada bos dan sebagainya. Walau saat itu, ada ‘mentor’-lah kalau mereka mau disebut mentor. Xixixi.

Nah, sekarang, setelah hampir 7 tahun men-jomblo kerja dari rumah, aku memilih jadi karyawan. Lebih tepatnya sih finally dapet panggilan kerja. Xixi. Kenapa?

Continue Reading

Kerja dari Rumah itu Nggak Enak!

Kerja dari rumah kan enak, ngga harus bangun pagi dan padet-padetan di KRL. Kita bisa atur jam kerja sendiri. Ngga akan diomelin Bos.

Seterusnya dan seterusnya…

Motivasi-motivasi untuk kerja dari rumah kemungkinan besar sudah sering kalian dengar, baca atau saksikan. Wah! Semua orang sepertinya begitu mengelu-elukan yang namanya ‘work at home’. Keren, prestisius, pokoknya terbebas dari segala keterikatan! Itu mungkin dalam bayangan kamu ketika melihat seseorang bekerja dari rumah. Pada kenyataannya tidaklah seindah dalam bayangan kamu, yang mungkin sekarang masih berkutat dengan eight to five.

Aku pernah kerja dari rumah. Awalnya sukses. Namun, lama kelamaan, berantakan. Ntahlah apakah karena benar-benar jenuh atau tidak. Tetapi, satu poin yang aku dapet adalah: Sebelum terjun untuk jadi freelancer atau apalah namanya, kamu harus terlebih dahulu jadi karyawan yang baik. Ya, paling tidak, pastikan kamu bisa mengatur dirimu sendiri. Seriously! Mengapa?

Continue Reading