Cari Penghasilan Tambahan atau Hemat? Pilihlah Berhemat

Tiba-tiba aku tertarik menulis topik yang ada di judul artikel kali ini karena sempat nulis topik yang hampir sama. Beberapa waktu lalu untuk pekerjaan kantor, aku menulis tentang pengelolaan utang-piutang dan kaitannya dengan berhemat ataukah cari penghasilan tambahan.

Dari situ, terbersit dalam benakku sebenarnya sekarang aku sendiri pilih yang mana, ya. Kebutuhan hidup makin tinggi. Kadang diikuti pula dengan kebutuhan gaya hidup. Percayalah! Makin tinggi penghasilan kita bakal diikuti pula dengan tingginya gaya hidup. Meskipun sebenarnya kita bisa mengeremnya – seharusnya.

***

Aku pernah dengar satu statement dari temenku, begini:

“Kalau tidak bisa berhemat maka cari uang sebanyak-banyaknya.”

Iya, memang, berhemat itu sulit sekali. Waktu gajian, serasa orang kaya sedunia dan apa saja bisa dibeli. Eh tau-tau, seminggu ke depan kemudian baru sadar kalau nominal di rekening berkurang bahkan sekarat. Akhirnya? Pusing tujung keliling kayak foto di bawah ini mikirin darimana bisa dapat penghasilan tambahan.

cari penghasilan tambahan atau berhemat
-mikirin kapan tanggal tua berakhir. Batu akiknya nggak laku lagi pulak sekarang. Haha.

Atau, di sisi lain, waktu gajian serasa paling kaya sedunia. Belanja sana-sini. Bergumam, “Ah, nanti hasil kerja dari freelance juga bakal cair lagi”.

See?

Sebelumnya, aku ucapkan selamat kalau kamu punya project sampingan selain kerjaan kantor. Ntah itu jadi penulis artikel freelance, ada project ngedesain web di luar kantor dan sebagainya.

Faktanya cari penghasilan tambahan itu perlu! Akan tetapi…

Cari Penghasilan Tambahan

Khususnya kita yang punya tanggung jawab ekstra such as utang, cicilan atau bantu keluarga dan sebagainya, cari penghasilan tambahan itu bener-bener diperlukan banget. Berat juga memang kalau harus menurunkan standar hidup. Yang tadinya ngupi-ngupi cantik di mal seminggu sekali, eh ini sama sekali ditiadakan. Tapi gimana kalau diajakin temen?

Tapi…

Kalau tujuan kita hanya untuk mempertahankan atau bahkan meningkatkan gaya hidup saja, oh, sayang sekali!

Hitung-hitungannya gini deh:

Gaji kamu 3,5 juta. Total biaya hidup selama ini 2,1 juta. Bisa diiritlah karena dapat jatah makan siang di kantor. Bayar cicilan 700 ribu per bulan.  Jadi totalnya 2,6 juta per bulan. Kamu masih punya 900 ribu lagi, kan? Tapi sayangnya.. Perhitungan biaya hidup itu ternyata selalu saja meleset.

Kenapa? Karena ternyata membengkak di biaya makan. Harusnya target biaya makan maksimal 20ribu sehari untuk sarapan dan makan malem..  Eh, ini malah keseringan makan di mal. Setiap akhir pekan malah lebih ganas lagi. Nonton, makan di mal, belanja-belanji disabet semua. Wuih!

Di tanggal tua pun keteter.. Tapi bisa juga terlewati dengan makan indomie atau nggak makan malam. Hahaha. Nah lho!

Oke, kita bikinlah ada penghasilan tambahan. Sebut saja 500ribu hingga sejuta per bulan. Mudah-mudahan itu bisa ditabung. Kalau kalap belanja, ya habis juga.

Jadi, gimana dong?

Dari cerita perhitungan yang aku sebutkan. Sebenarnya biaya hidup 2,1 juta itu masuk akal kok. Nilai 2,1 juta itu bisa disamain 60% dari total penghasilan. Kata para ahli sih itu pengeluaran yang masuk akal untuk biaya hidup. Wogh, apalagi kamu terbantu sama jatah makan siang. Cicilan 700 ribu sebulan pun masuk akal karena nggak melebihi 30% dari penghasilan. Kalau bisa sih sebenarnya, suatu saat itu cicilan ditiadakan atau memang nggak ada. Sisanya? Bahkan lebih dari 25% penghasilan.

Nah di sinilah harusnya kemampuan berhemat kamu harus dikerahkan.

Tidak Perlu Cari Penghasilan Tambahan

Sebenarnya dengan penghasilan seperti itu, kita bisa tidak perlu cari penghasilan tambahan. Kerja full-time di kantor itu bikin capek, kan? Iya bener banget. Kalau kita ngoyo untuk ngerjain freelance lagi, bisa-bisa malah kerjaan kantor juga berantakan. Kalau kerjaaan kantor ngga beres, Bos kamu bisa marah. Eh, nggak enaknya.. Ya maap-maap, bisa say goodbye.

Berhematlah! Nggak perlu ikuti tekanan teman untuk sering-sering hang-out. Toh kalau kamu melarat apa mereka bisa bantu kamu? Atau setiap bulan bantu kamu? Oke, bantu mungkin iya tapi dalam bentuk bantuan utang. Penghasilanmu bulan depan pun harus dipotong utang lagi. Yah! *lap keringet*

Jika Memang Bisa Sanggup Kerja Freelance Lagi, Bagaimana?

Gimana kalau memang bisa sanggup kerja freelance lagi di samping full-time di kantor? Aku bilang sih mending berhemat juga. Boleh kamu upgrade sedikit, nggak perlu ketat banget. Tapi ingat ada tapinya. Kalau dipikir-pikir begini:

Katakanlah 900 ribu tadi benar-benar kamu tabung. Nah, ditambah kerjaan freelance katakanlah rata-rata dapet 800 ribu sebulan. Kamu bisa tabung 1,7 juta per bulan, kan? Kalau setahun sudah dapet 20.400.000! 20 juta, Bok! Belum lagi kalau ke depannya cicilan atau utang kamu lunas yang 700 ribu itu. Wih, bisa tambah sampai 2,4 juta per bulan. Hampir 30 juta bisa kamu dapet hanya dalam setahun. Such a fantastic amount of money sebenarnya. Itu dana udah bisa dipake buat DP-in KPR rumah tahun depan. Oh iya, kamu bisa bedain langsung rekening untuk tabungan dengan rekening untuk biaya hidup sehari-hari.

Udah bayang-bayangin aja prospek itu. Ingat juga di luar sana, masih banya orang yang benar-benar kekurangan.

Tapi kalaupun masih ingin gaya dikit, bolehlah pakai hanya 200ribu per bulan. Nggak perlu tiap minggu juga, kan, ngemal-nya atau beli baju? Patuhlah dengan aturan itu.

Anyway, itu nilai 2,1 juta sebenarnya bisa udah termasuk biaya entertainment kayaknya deh.

🙂

Seriously, aku juga bukan tipe orang berhemat. Makanku banyak. Kadang-kadang impulsif belanja. Sekarang sedang coba untuk berhemat juga. Amen.

Kamu mungkin suka tulisan ini!

10 Comments

  1. saya mau saran, kalau belum tau sumber kebenaran nya jangan bilang sesuatu bisnis itu gak benar/penipuan.
    toh kamu sendiri aja kere….

  2. tabung 10juta di d4f . tiap bulan dapat 3 juta penghasilan tambahan
    kecil kemungkinan d4f runtuh 4 bulan kedepan
    udah balik modal simpan
    sisanya buat ke mall

Leave a Reply